Kapolri Kenang Pesan Eyang Merry, Lanjutkan Teladan Jenderal Hoegeng dalam Membangun Kepolisian Bersih

AI-assistedNewsFrasa

4 Min to read

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenang pesan mendiang Eyang Merry Hoegeng, istri dari legenda kepolisian Indonesia Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dalam berbagai kesempatan, Kapolri menekankan pentingnya melanjutkan teladan integritas dan profesionalisme yang telah dibangun oleh Jenderal Hoegeng sebagai sosok yang dikenal sebagai polisi paling jujur dalam sejarah Indonesia.

Warisan Spiritual dari Keluarga Hoegeng

Eyang Merry, yang meninggal pada usia 95 tahun, meninggalkan pesan yang sangat berarti bagi institusi Polri. Selama hidupnya, beliau selalu mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan korps kepolisian melalui integritas dan pelayanan yang tulus kepada masyarakat. Jenderal Hoegeng sendiri dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menerima suap sepeserpun selama masa tugasnya sebagai Kapolri dari tahun 1968-1971.

"Pesan Eyang Merry kepada kami semua adalah untuk terus menjaga nama baik Polri dengan tidak pernah berkompromi dengan korupsi dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat," ujar Kapolri dalam salah satu pernyataannya. Komitmen ini sejalan dengan program reformasi kepolisian yang terus digalakkan dalam beberapa tahun terakhir.

Tantangan Membangun Kepercayaan Publik

Data dari Lembaga Survey Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian masih menghadapi fluktuasi. Pada tahun 2023, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 67 persen, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 62 persen. Meski demikian, angka ini masih jauh dari target ideal yang diharapkan.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyadari bahwa membangun kepercayaan publik memerlukan kerja keras dan konsistensi. "Teladan Pak Hoegeng mengajarkan kepada kita bahwa integritas bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Ini adalah fondasi utama dalam membangun kepolisian yang profesional dan dipercaya masyarakat," tegasnya.

Program Transformasi Polri Era Modern

Dalam upaya mewujudkan visi Jenderal Hoegeng, Polri telah meluncurkan berbagai program transformasi. Program Presisi (Predictable, Responsibilitas, Transparansi) menjadi salah satu inisiatif utama yang diluncurkan sejak tahun 2021. Program ini bertujuan menciptakan kepolisian yang dapat diprediksi, bertanggung jawab, dan transparan dalam setiap tindakannya.

Data dari Divisi Propam Polri menunjukkan adanya peningkatan dalam penanganan kasus pelanggaran disiplin internal. Pada tahun 2023, terdapat 1.247 kasus pelanggaran disiplin yang ditangani, dengan 78 persen di antaranya telah diselesaikan melalui proses hukum yang transparan. Angka ini menunjukkan komitmen serius Polri dalam membersihkan barisan internal.

Implementasi Nilai-Nilai Hoegeng dalam Kehidupan Sehari-hari

Filosofi hidup Jenderal Hoegeng yang terkenal, "Lebih baik dipindahkan daripada disuap", kini menjadi bagian dari kurikulum pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan berbagai lembaga pendidikan kepolisian. Setiap calon polisi diwajibkan mempelajari sejarah dan nilai-nilai yang diajarkan oleh sosok legendaris ini.

Kapolri juga mengimplementasikan sistem reward and punishment yang lebih ketat. Personel yang menunjukkan integritas tinggi mendapat apresiasi khusus, sementara yang melanggar kode etik menghadapi sanksi tegas. Sistem ini telah menghasilkan penurunan 23 persen kasus korupsi internal dibandingkan tahun sebelumnya.

Digitalisasi dan Transparansi Pelayanan

Era digital memberikan peluang besar untuk mewujudkan visi transparansi Jenderal Hoegeng. Aplikasi Presisi Polri telah diunduh lebih dari 2,3 juta kali sejak diluncurkan. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat melaporkan tindak pidana, memberikan apresiasi, hingga menyampaikan keluhan terhadap kinerja polisi secara real-time.

Sistem pelayanan digital ini juga mencakup proses pengurusan SIM, SKCK, dan berbagai administrasi kepolisian lainnya. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan digital Polri mencapai 84 persen pada tahun 2023, menunjukkan apresiasi positif terhadap upaya modernisasi pelayanan.

Tantangan dan Komitmen Masa Depan

Meski berbagai kemajuan telah dicapai, Kapolri mengakui bahwa perjalanan menuju kepolisian yang berintegritas seperti yang dicontohkan Jenderal Hoegeng masih panjang. "Dengan jumlah personel Polri yang mencapai lebih dari 440.000 orang, tantangan untuk memastikan setiap individu menjunjung tinggi nilai-nilai integritas bukanlah perkara mudah," ungkap Kapolri.

Program pembinaan mental dan spiritual terus diperkuat melalui kerjasama dengan berbagai tokoh agama dan lembaga pendidikan karakter. Target Polri adalah mencapai tingkat kepercayaan publik minimal 80 persen pada tahun 2025, sekaligus menurunkan kasus pelanggaran internal hingga di bawah 5 persen dari total personel.

Penutup: Warisan Abadi untuk Generasi Mendatang

Pesan Eyang Merry dan teladan Jenderal Hoegeng Iman Santoso menjadi kompas moral bagi transformasi Polri di era modern. Komitmen Kapolri untuk melanjutkan warisan integritas ini bukan hanya sekedar retorika, tetapi telah diwujudkan melalui berbagai program konkret dan terukur.

Keberhasilan membangun kepolisian yang bersih dan profesional memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Seperti yang pernah dikatakan Jenderal Hoegeng, "Polisi yang baik adalah polisi yang melayani rakyat dengan tulus, bukan yang dilayani oleh rakyat." Filosofi ini terus menjadi inspirasi dalam setiap langkah transformasi Polri menuju masa depan yang lebih baik.

You've reached the juicy part of the story.

Sign in with Google to unlock the rest — it takes 2 seconds, and we promise no spoilers in your inbox.

Free forever. No credit card. Just great reading.