China Bikin Kacamata Pintar Pengganti Handphone, Ini Keunggulannya! Perlombaan menuju perangkat komputasi masa depan kian sengit. Setelah era smartphone yang mendominasi lebih dari satu dekade, raksasa teknologi mulai mengarahkan fokus ke kacamata pintar sebagai kandidat kuat pengganti ponsel. Di garis depan kompetisi ini, perusahaan-perusahaan teknologi asal Tiongkok meluncurkan berbagai model kacamata pintar yang tidak lagi sekadar aksesori, tetapi diposisikan sebagai “layar utama” berikutnya. Image Illustration. Photo by Zhen Yao on Unsplash Dari Gimmick ke Perangkat Serius Selama bertahun-tahun, kacamata pintar dipandang sebagai produk eksperimen: menarik secara teknologi, tetapi sulit dipakai sehari-hari. Itu mulai berubah ketika beberapa pemain besar memperkecil ukuran perangkat, memperpanjang daya baterai, dan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) langsung ke frame kacamata. Alibaba, misalnya, baru-baru ini meluncurkan Quark AI Glasses di pasar Tiongkok. Kacamata ini berbentuk seperti kacamata biasa, namun ditenagai model bahasa besar internal Qwen dan terintegrasi dengan ekosistem aplikasi seperti Alipay dan Taobao, menawarkan fungsi asisten pribadi, terjemahan langsung, hingga pengenalan harga di dunia nyata. Masuknya Alibaba ke pasar ini memperlihatkan bahwa kacamata pintar bukan lagi proyek sampingan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang di ranah AI dan komputasi sehari-hari. Produsen Tiongkok lain seperti Xiaomi juga agresif. Xiaomi meluncurkan MIJIA Smart Audio Glasses 2—kacamata ringan sekitar 27,6 gram dengan audio terintegrasi, masa pakai baterai hingga 12 jam pemakaian musik, serta dukungan asisten suara. Perangkat seperti ini memosisikan kacamata sebagai pengganti earphone nirkabel dan sarana notifikasi, sehingga fungsi yang selama ini dipegang smartphone mulai “bocor” ke wajah pengguna. Pasar Global Melejit, Smart Glasses Jadi Motor Pertumbuhan Secara global, pasar perangkat realitas tertambah (AR), realitas virtual (VR), dan smart glasses menunjukkan tren pertumbuhan yang cepat. Lembaga riset IDC memproyeksikan pengiriman headset AR akan melonjak dari kurang dari satu juta unit pada 2024 menjadi sekitar 10,9 juta unit pada 2028, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 87,1%. Ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan industri bahwa perangkat yang dikenakan di kepala—termasuk kacamata pintar—akan menjadi medium utama interaksi digital di masa depan. Pasar secara keseluruhan juga berkembang pesat dari sisi nilai. Riset Precedence Research memperkirakan nilai pasar headset AR/VR global akan meroket dari sekitar 16,9 miliar dolar AS pada 2025 menjadi sekitar 261,9 miliar dolar AS pada 2034, dengan CAGR sekitar 35,6%. Angka ini memperlihatkan bahwa kacamata pintar bukan sekadar produk gaya hidup, tetapi bagian dari pergeseran besar platform komputasi. Menariknya, IDC mencatat bahwa kategori “display-less smart glasses”—yakni kacamata dengan fungsi pintar tetapi tanpa layar visual, seperti asisten suara dan kamera—diprediksi akan tumbuh sekitar 247,5% tahun-ke-tahun pada 2025, didorong oleh masuknya lebih banyak pemain teknologi dan penerapan AI di perangkat ringan ini. Pola pertumbuhan ini sangat relevan bagi Tiongkok, yang memiliki basis manufaktur kuat dan ekosistem aplikasi super seperti Alipay, WeChat, dan Taobao yang siap “dipindahkan” dari layar ponsel ke lensa dan bingkai. Keunggulan Utama: Selalu On, Tangan Tetap Bebas Dibandingkan smartphone, keunggulan kacamata pintar paling jelas adalah sifatnya yang “selalu terpakai”. Tidak perlu mengeluarkan perangkat dari saku, menyalakan layar, atau membuka kunci. Informasi dapat muncul seketika di depan mata atau di telinga pengguna, sementara tangan tetap bebas untuk beraktivitas. Integrasi dengan AI membuat kacamata pintar lebih dari sekadar pengganti layar ponsel. Quark AI Glasses milik Alibaba, misalnya, memanfaatkan model bahasa besar untuk memberi saran kontekstual—mulai dari menerjemahkan percakapan asing secara real-time hingga mengenali produk di rak toko dan menampilkan ulasan atau perbandingan harga melalui aplikasi e-commerce perusahaan. Dengan demikian, pengalaman belanja, navigasi kota, hingga produktivitas harian dapat berlangsung tanpa perlu menatap gawai di tangan. Bagi pengguna di kota-kota besar Tiongkok yang sudah terbiasa dengan pembayaran nirsentuh dan super-app, kacamata pintar menawarkan satu lapis kemudahan baru: memindai kode QR, melihat saldo, atau mendapatkan rute tercepat cukup dengan perintah suara atau gerakan kepala, tanpa perlu menyentuh layar. Dalam konteks ini, kacamata pintar berpotensi mengambil alih banyak peran smartphone—mulai dari komunikasi singkat, notifikasi, hingga transaksi harian. Ekosistem Tiongkok: 5G, Super-App, dan Investasi Raksasa AI Keunggulan lain Tiongkok ada pada infrastruktur dan skala pasar. Negara ini merupakan salah satu pemimpin adopsi 5G di dunia, dengan ratusan juta pengguna dan jaringan yang mencakup kota-kota besar hingga area industri. Jaringan berlatensi rendah dan berkecepatan tinggi ini menjadi fondasi penting untuk kacamata pintar yang perlu terus terhubung ke cloud untuk menjalankan model AI berat maupun pemrosesan visual secara real-time. Perusahaan seperti Alibaba juga mengalokasikan investasi besar ke AI dan komputasi awan. Menurut laporan keuangan dan pernyataan publik, Alibaba berkomitmen menggelontorkan sekitar 380 miliar yuan—setara lebih dari 50 miliar dolar AS—dalam tiga tahun untuk memperkuat infrastruktur AI dan cloud. Investasi sebesar ini memungkinkan pengembangan kacamata pintar yang tidak hanya canggih secara perangkat keras, tetapi juga ditopang layanan AI yang terus diperbarui dari pusat data. Di sisi lain, riset pasar menunjukkan bahwa perusahaan dan sektor profesional merupakan pengguna awal penting perangkat AR/XR, mulai dari visualisasi medis hingga pelatihan industri. Dengan basis manufaktur dan industri yang besar, Tiongkok memiliki ladang uji coba ideal untuk kacamata pintar di ranah enterprise—yang pada gilirannya akan menurunkan biaya dan mempercepat adopsi konsumen. Tantangan: Privasi, Kenyamanan, dan Ketergantungan Ekosistem Meski potensinya besar, kacamata pintar pengganti smartphone tetap menghadapi sejumlah kendala. Secara global, penjualan headset XR kelas atas cenderung terbatas—hanya sebagian kecil dari total pengiriman—karena harga tinggi, kenyamanan pemakaian, dan ketidakjelasan manfaat jangka panjang bagi konsumen umum. Analis memperkirakan perangkat premium di atas 1.000 dolar AS hanya menyumbang sekitar 5–6% pengiriman pada 2025, menandakan bahwa sebagian besar pengguna memilih perangkat yang lebih ringan dan terjangkau. Kacamata pintar juga memicu kekhawatiran privasi. Kamera dan mikrofon yang terus aktif berpotensi merekam lingkungan tanpa disadari orang sekitar. Regulasi, standar transparansi, dan desain yang memberi sinyal jelas saat perekaman menjadi isu yang harus dipecahkan produsen dan pembuat kebijakan, termasuk di Tiongkok yang regulasi datanya semakin ketat. Faktor lain adalah ketergantungan pada ekosistem tertutup. Kacamata pintar yang terintegrasi erat dengan satu super-app atau satu merek ponsel bisa membuat pengguna “terkunci” di satu layanan. Bagi perusahaan Tiongkok, ini sekaligus peluang bisnis dan tantangan reputasi: seberapa jauh konsumen bersedia menyerahkan data dan kebiasaan hidupnya pada satu platform yang bahkan menempel di wajahnya sepanjang hari? Menuju Era Pasca-Smartphone? Untuk saat ini, kacamata pintar asal Tiongkok belum sepenuhnya menggantikan smartphone. Namun, tanda-tanda pergeseran mulai tampak: notifikasi pindah ke lensa, panggilan dan musik dialihkan ke bingkai, informasi kontekstual disajikan lewat asisten AI yang selalu menyimak. Ponsel perlahan bergeser menjadi “komputer di kantong” yang lebih jarang disentuh, sementara wajah menjadi antarmuka utama antara manusia dan ruang digital. Jika proyeksi pertumbuhan pasar AR/VR dan smart glasses terbukti, dekade mendatang bisa menjadi masa peralihan dari era smartphone ke era komputasi yang dikenakan di tubuh (wearable, spatial computing). Di dalam skenario itu, langkah agresif perusahaan-perusahaan Tiongkok mengembangkan kacamata pintar bukan sekadar mengikuti tren, tetapi upaya merebut posisi sebagai arsitek utama platform komputasi berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah kacamata pintar akan menggantikan smartphone, tetapi kapan, dalam bentuk apa, dan siapa yang akan memegang kendali ekosistemnya. Untuk saat ini, Tiongkok tampaknya bertekad memastikan bahwa salah satu jawabannya datang dari Beijing, Hangzhou, atau Shenzhen.
Frasa•Dec 8, 2025Putin Warns NATO and Ukraine: More Territory at Stake if Peace Efforts Fail Russian President Vladimir Putin has issued one of his starkest warnings yet to Kyiv and its Western backers, suggesting that Russia is prepared to seize additional Ukrainian territory if ongoing attempts at peace talks collapse. In a meeting with top defense officials in mid-December 2025, Putin declared that Moscow would achieve its goals in Ukraine “either by negotiation or by force,” making clear that the Kremlin’s territorial ambitions extend well beyond the areas it already occupies. Image Illustration. Photo by Andy Cat on Unsplash The comments, carried by several major news agencies, are being read in European capitals and Washington as a calibrated attempt to pressure Ukraine and the West into accepting a settlement that would formalize Russia’s control over large swaths of Ukrainian land—while holding out the threat of further advances if they refuse. A New Round of Nuclear-Backed Coercion Speaking to senior military commanders in Moscow, Putin framed the war as a struggle over “historic Russian lands” and insisted that Russia has the military capacity to push further west if its conditions for peace are not met. Reuters reported that Putin warned Russia would take “more territory” if peace proposals backed by the United States and some European governments were rejected, while reaffirming Moscow’s claims over Crimea and four Ukrainian regions it moved to annex in 2022—Donetsk, Luhansk, Kherson and Zaporizhzhia. In parallel coverage, the Associated Press highlighted his threat to "extend" Russia’s gains in Ukraine if U.S.-brokered peace efforts fail, underscoring a dual strategy of diplomatic engagement and overt coercion. The remarks come amid reports that Russia is dedicating more than 5 percent of its GDP to defense in 2025—a wartime allocation rivaling or exceeding late–Cold War levels, according to Putin’s own defense minister. The signal is clear: the Kremlin is preparing for a long conflict and wants NATO to believe that time and firepower are on Russia’s side. How Much of Ukraine Is Already Under Russian Control? Nearly three years into the full-scale invasion, Russia holds roughly a fifth of Ukraine’s internationally recognized territory, including Crimea and large parts of the Donbas and southern regions. An analysis drawing on data from the Institute for the Study of War estimates that, as of late 2025, Russia controls about 20 percent of Ukraine’s land—some 45,000 square miles, an area roughly comparable to the U.S. state of Pennsylvania. Other independent counts broadly align with that figure. A detailed August 2025 mapping project by Al Jazeera, also based on ISW data, concluded that Russia occupied about one-fifth of Ukraine—around 114,500 square kilometers—while Ukrainian forces held a shrinking line of defensive positions stretching more than 1,000 kilometers across the east and south. In 2024 alone, Russia gained more than 4,100 square kilometers of Ukrainian territory, according to geolocated evidence collected by the Institute for the Study of War and cited by Al Jazeera—an area about five times the size of New York City. Why Territorial Concessions Are Politically Toxic in Kyiv Behind Putin’s threats lies a central question: could Ukraine ever agree to give up the land Russia already holds in exchange for peace? Legally and politically, the answer is fraught. Ukraine’s constitution explicitly prohibits ceding territory, and President Volodymyr Zelenskyy has repeatedly vowed not to “gift” land to Moscow. Public opinion, hardened by years of occupation and large-scale atrocities documented in areas retaken from Russian forces, makes any formal recognition of territorial loss politically explosive in Kyiv. Ukrainian officials have also warned that any such deal would merely pause the conflict, inviting future Russian offensives once Moscow has rebuilt its forces. NATO’s Response: More Arms, More Spending, but No Troops While Putin dismisses Western warnings about a potential Russian attack on NATO as “hysteria,” his rhetoric is directly shaping defense policy in Europe. Since the full-scale invasion in 2022, NATO members have embarked on a historic military buildup. According to data compiled by the Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), global military spending climbed to a record $2.72 trillion in 2024, with NATO countries accounting for roughly 55 percent of that amount. Within the alliance, defense budgets have surged. SIPRI estimates NATO members spent about $1.51 trillion on their militaries in 2024, with European members alone accounting for $454 billion, a near 9 percent increase year-on-year and a 16 percent jump compared with 2023. For the first time since the 2 percent of GDP benchmark was agreed a decade ago, a majority of NATO members are either meeting or exceeding it, reflecting how Russia’s invasion has transformed threat perceptions across the continent. In 2024, NATO’s European allies and Canada collectively invested roughly $380–430 billion in defense, amounting to just over 2 percent of their combined GDP, according to alliance officials and independent tallies. At a 2025 summit, NATO leaders went further, pledging to work toward total “defense and security-related” spending of 5 percent of GDP by 2035, with at least 3.5 percent earmarked specifically for military capabilities and 1.5 percent for critical infrastructure and resilience. Escalation Risks: From Donbas to the NATO Border Putin’s latest threats are not taking place in a vacuum. On the ground, Russia has been slowly advancing, particularly in Donetsk and parts of Zaporizhzhia and Dnipropetrovsk, even as its armed forces sustain heavy losses. The Washington-based Russia Matters project, drawing on ISW data, notes that from February 2022 to early December 2025, Russia has added nearly 29,000 square miles of Ukrainian territory to its control, consolidating a sprawling land bridge along the Sea of Azov and deepening its foothold in the Donbas industrial region. In 2025, Russian forces also opened or expanded fronts in Ukraine’s northeastern Sumy region, capturing settlements such as Kostiantynivka and securing control over more than 100 square kilometers there, according to open-source assessments cited in Western media and online databases. These incremental advances, while not decisive militarily, allow Moscow to maintain pressure along a 1,000-kilometer front and complicate Ukraine’s already stretched defensive posture. A Strategic Message to Western Audiences Putin’s latest remarks are aimed as much at Western public opinion as at elites in Kyiv. By warning that Ukraine risks “losing more territory” if it refuses his terms, he is effectively testing the resolve of NATO governments and their voters, who have shouldered the financial and political costs of sustaining Ukraine’s war effort. At the same time, his insistence that Russia is open to peace—but only under conditions that would lock in Russian gains and severely limit Ukraine’s sovereignty—highlights the central dilemma for Western policymakers: whether to push Kyiv toward an unpopular settlement now, or to prepare for a protracted conflict with a nuclear-armed adversary that shows little sign of backing down. Conclusion: Peace Talks Under the Shadow of the Map Three years after Russia’s full-scale invasion began, the map of Ukraine is at the center of every diplomatic calculation. Putin’s warning that Ukraine could lose even more territory if it rejects peace offers is both a threat and an admission: Moscow believes it has the capacity to keep pushing the front line—and that Western unity may fray over time. For Kyiv, accepting such a bargain would challenge constitutional law and national identity, while for NATO governments, pressuring Ukraine into concessions risks validating the use of force to redraw borders in Europe. As long as those contradictions remain unresolved, any talk of peace will unfold under the shadow of shifting front lines—and the very real possibility that the territorial map of Ukraine has not yet stopped changing.
Frasa•Dec 18, 2025China Pushes Back After U.S. Says It Has Loaded 100 New Intercontinental Missiles Beijing has sharply rejected a draft Pentagon assessment that China has likely loaded more than 100 new intercontinental ballistic missiles (ICBMs), accusing Washington of exaggerating the threat to justify its own nuclear modernization. The dispute, which surfaced days before Christmas 2025, highlights the growing mistrust at the heart of the U.S.–China strategic rivalry and raises questions about how close the world is edging toward a new three‑way nuclear arms race. Image Illustration. Photo by Bo Peng on Unsplash The Latest U.S. Claim: 100 New Chinese ICBMs Loaded The immediate trigger for Beijing’s response was a draft report prepared for the U.S. Department of Defense, which assesses that China has “likely loaded more than 100 ICBMs” across newly built silo fields in northern China near the border with Mongolia. Reuters reported that the draft describes the buildup as evidence that China’s nuclear force is modernizing “faster than any other nuclear power.” The new missiles are believed to be variants of the solid‑fuel DF‑31 family, road‑mobile systems that have been adapted for silo deployment and can strike targets across the continental United States when launched from deep inside Chinese territory. Analysts at the Bulletin of the Atomic Scientists estimate that China is building roughly 320 new silos for solid‑fuel ICBMs across three major fields, plus around 30 additional silos for older liquid‑fuel DF‑5 missiles, in what they call the largest expansion of China’s nuclear arsenal in its history. Beijing’s Response: Defensive Posture and Accusations of U.S. Hype China’s Foreign Ministry swiftly rejected the U.S. characterisation. Spokesperson Lin Jian accused Washington of recycling a familiar playbook: inflating the Chinese threat to rationalize its own nuclear upgrades and maintain strategic dominance. In comments reported by Reuters after the draft emerged , Lin urged the U.S. — as the world’s largest nuclear power — to “take the lead” in reducing its arsenal instead of “hyping up” China’s capabilities. Chinese officials routinely stress that Beijing adheres to a no‑first‑use doctrine for nuclear weapons and maintains its arsenal at what it calls the “minimum level” necessary for national security. In public statements, Beijing argues that U.S. missile defense deployments and advanced conventional strike systems threaten China’s ability to retaliate, forcing it to improve survivability rather than seek numerical parity with the United States or Russia. How Big Is China’s Nuclear Arsenal Now? Behind the war of words lies a rapidly changing nuclear balance. According to the Pentagon’s 2024 China Military Power Report, China possessed about 500 ICBM launchers — including both silo‑based and mobile systems — and roughly 400 ICBM missiles as of early 2024. The same report assessed that Beijing had around 500 operational nuclear warheads in 2023, more than double the “low‑200s” reported in 2020, and projected that number could exceed 1,000 by 2030. Independent researchers largely corroborate the picture of rapid growth, though often with more caution about how many new silos actually contain missiles. The Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) estimated in mid‑2025 that China had at least 600 nuclear warheads and was adding roughly 100 warheads per year — the fastest rate of any nuclear‑armed state. By contrast, the United States still fields a far larger nuclear inventory, with about 5,200 warheads in its stockpile as of early 2024, according to open‑source tallies based on U.S. government data compiled by the Federation of American Scientists . Even if Chinese warhead numbers reach 1,500 by 2035, as some projections suggest, Beijing would still trail Washington and Moscow in deployed capabilities. Silo Fields and the ‘100 ICBMs’ Question At the heart of the current dispute is a technical question: how many of China’s new silos are actually loaded with missiles? Satellite imagery analysed by independent experts has identified three massive new silo fields in Yumen, Hami and Yulin, each laid out in a triangular grid and located far inland, beyond the reach of U.S. cruise missiles. Research published by the Bulletin of the Atomic Scientists in 2025 concludes that China is constructing around 350 new ICBM silos in total — 320 for solid‑fuel systems plus 30 for DF‑5 missiles — an expansion that exceeds Russia’s entire silo‑based ICBM force and represents roughly three‑quarters of the U.S. silo force. However, whether more than 100 of those silos are already filled with operational missiles remains disputed. A 2023 analysis by the Federation of American Scientists questioned earlier Pentagon claims that China had already surpassed the U.S. in ICBM launchers, noting that construction and support infrastructure at the new fields were still ongoing and that there was no public evidence yet of large‑scale missile loading. Arms Race Fears: U.S. and China Point Fingers The U.S. warning about more than 100 newly loaded Chinese ICBMs comes as Washington pours hundreds of billions of dollars into modernizing its own nuclear triad. The Congressional Budget Office projects that U.S. nuclear forces will cost about $946 billion between 2025 and 2034 — a 25% jump from its previous estimate — driven by programs such as the Sentinel ICBM, Columbia‑class submarines and B‑21 bombers. The figure was detailed in an April 2025 CBO report on nuclear force costs, underscoring the scale of U.S. investment even as it urges China to show restraint. Chinese officials routinely point to those U.S. plans — and to the absence of legally binding limits after the erosion of Cold War‑era arms‑control treaties — as proof that Washington is in no position to lecture others. Beijing has so far resisted U.S. calls for trilateral arms‑control talks with Russia, arguing that its arsenal is far smaller and that the onus remains on Washington and Moscow to cut their stockpiles first. Strategic Stability at Risk For arms‑control experts, the immediate question is not just how many Chinese silos are filled, but how U.S. and Chinese leaders interpret one another’s intentions. A move from a relatively small, secure Chinese deterrent toward a larger, silo‑heavy force could increase both sides’ incentive to strike first in a crisis if they fear that new systems are vulnerable to pre‑emption or miscalculation. China’s expansion is unfolding just as the last remaining U.S.–Russia strategic arms treaty, New START, approaches expiration in 2026 with no replacement in sight. Without new constraints, the United States could face what officials have termed “the unprecedented challenge” of simultaneously deterring two near‑peer nuclear competitors. That prospect has already prompted Pentagon planners to re‑examine assumptions about warhead numbers, targeting and missile defense — decisions that, in turn, feed Beijing’s sense of encirclement. Conclusion: A Numbers Dispute with Global Stakes Whether China has loaded 50, 100 or 200 new ICBMs into its burgeoning silo fields, the political impact of the U.S. claim and Beijing’s rebuttal may matter more than the exact number. The Pentagon’s warning reinforces a narrative in Washington that China is racing toward strategic parity and that U.S. forces must expand or at least fully modernize in response. In Beijing, officials frame the same data as proof that the United States is using fear of China to preserve nuclear primacy while ignoring its own disarmament obligations. For the rest of the world, the exchange is another reminder that the nuclear order built around U.S.–Russia parity is straining under the weight of a fast‑rising third power. As evidence mounts of rapid silo construction, growing warhead stockpiles and mutual suspicion, the space for arms control is shrinking. Unless Washington and Beijing can begin to talk not only about accusations and numbers, but about mutual limits and rules of the game, the argument over “100 ICBMs” may be remembered as just one early marker on the road to a more dangerous, less predictable nuclear era.
Frasa•Dec 24, 2025Trump Tiba-tiba Tarik Pulang Puluhan Duta Besar Karier: Apa Taruhannya Bagi Diplomasi AS? Pemerintahan Donald Trump kembali mengguncang korps diplomatik Amerika Serikat. Menjelang pertengahan Januari 2026, Gedung Putih memerintahkan penarikan mendadak lebih dari dua lusin duta besar karier dari berbagai penjuru dunia, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post . Langkah ini disebut sebagai upaya mempertegas agenda “America First”, tetapi memicu kekhawatiran serius mengenai politisasi layanan diplomatik yang selama ini dijaga nonpartisan. Image Illustration. Photo by René DeAnda on Unsplash Penarikan Mendadak dari Sedikitnya 29 Negara Menurut laporan media dan keterangan pejabat anonim di Departemen Luar Negeri, penarikan ini mencakup kepala perwakilan di sedikitnya 29 negara, dengan total hampir 30 diplomat karier di tingkat duta besar dan pejabat senior kedutaan yang terkena dampak. Laporan Associated Press yang dikutip The Guardian menyebut bahwa para kepala misi di setidaknya 29 negara diberi tahu bahwa masa tugas mereka akan berakhir pada Januari 2026. Afrika menjadi kawasan yang paling terdampak. Data yang dirangkum sejumlah media menunjukkan sedikitnya 13 hingga 15 negara Afrika—mulai dari Nigeria, Niger, hingga Somalia—akan kehilangan duta besar karier mereka dalam satu gelombang kebijakan ini. Laporan konsolidasi yang dikutip oleh Al Jazeera menyebutkan bahwa duta besar di setidaknya 13 negara Afrika telah menerima perintah untuk segera kembali ke Washington. Siapa yang Terdampak: Diplomat Karier Lintas Partai Berbeda dengan pergantian duta besar politik yang lazim terjadi setiap pergantian pemerintahan, gelombang kali ini menyasar terutama diplomat karier—anggota US Foreign Service —yang selama ini ditugaskan melayani di bawah presiden dari Partai Republik maupun Demokrat. Banyak di antara mereka adalah pejabat yang dipromosikan di masa Presiden Joe Biden, namun memiliki rekam jejak panjang melintasi berbagai administrasi. American Foreign Service Association (AFSA), serikat yang mewakili pegawai Departemen Luar Negeri, mengungkapkan telah menerima “laporan kredibel” bahwa banyak duta besar karier yang diangkat di masa Biden diperintahkan melalui telepon untuk mengosongkan pos mereka pada 15–16 Januari 2026 tanpa penjelasan tertulis yang jelas. Pernyataan AFSA ini dikutip oleh media Timur Tengah The National , yang menegaskan bahwa langkah tersebut “tidak lazim” untuk skala dan kecepatannya. Alasan Resmi: Prerogatif Presiden dan Agenda “America First” Pejabat senior Departemen Luar Negeri yang tak disebutkan namanya menegaskan bahwa penarikan ini adalah bagian dari “proses standar di setiap pemerintahan” dan menekankan bahwa duta besar adalah “perwakilan pribadi presiden” yang harus sepenuhnya mendukung prioritas kebijakan luar negeri kepala negara. Pernyataan serupa muncul dalam laporan Reuters , yang mengutip seorang pejabat Departemen Luar Negeri yang menyatakan bahwa presiden berhak memastikan hanya individu yang mampu memajukan agenda “America First” yang memegang jabatan duta besar. Sejak kampanye 2016, Trump berulang kali berjanji akan “membersihkan deep state” dan mengganti birokrat karier dengan pejabat yang dianggap lebih loyal. Langkah penarikan massal ini dilihat banyak analis sebagai kelanjutan pola tersebut di masa jabatan keduanya, di mana jabatan-jabatan kunci kebijakan luar negeri, termasuk di Departemen Luar Negeri yang kini dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio, diisi oleh tokoh-tokoh yang dekat secara politik. Analisis tentang dorongan Trump untuk mempolitisasi birokrasi keamanan nasional dapat ditemukan dalam liputan Brookings Institution maupun laporan-laporan kebijakan luar negeri lainnya. Kritik: Politisasi dan Risiko Kekosongan Kepemimpinan Kritik paling tajam datang dari kalangan senator Demokrat dan organisasi profesi diplomat. Senator Jeanne Shaheen, anggota senior Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menuduh langkah ini “memberikan kepemimpinan global AS kepada China dan Rusia” dengan cara menyingkirkan duta besar yang berpengalaman di kawasan strategis. Pernyataannya dikutip secara luas oleh Al Jazeera dan kantor berita lain. AFSA dalam sebuah pernyataan menggambarkan penarikan ini sebagai bentuk “sabotase institusional dan politisasi” yang memperburuk moral, efektivitas, dan kredibilitas AS di luar negeri. Ungkapan tersebut dimuat kembali dalam laporan Al Jazeera tentang krisis moral di korps diplomatik , menandakan tingkat keprihatinan yang tidak biasa dari sebuah organisasi yang umumnya berhati-hati dalam mengkritik pemerintah yang sedang berkuasa. Dampak Konkret: Dari Afrika hingga Asia-Pasifik Secara geografis, Afrika dan Asia-Pasifik menjadi kawasan yang paling terguncang. Associated Press, yang dilansir oleh The Guardian , mencatat bahwa sekitar 15 negara Afrika dan enam negara di Asia-Pasifik akan mengalami pergantian mendadak di pucuk pimpinan kedutaan: mulai dari Filipina dan Vietnam hingga Fiji dan Papua Nugini. Secara keseluruhan, hampir 30 pos duta besar diyakini terdampak, termasuk di Eropa timur (seperti Armenia dan Slovakia), Asia Selatan (Nepal dan Sri Lanka), serta di Amerika Latin dan Karibia (Guatemala dan Suriname). Pemetaan awal ini banyak mengacu pada daftar yang disusun oleh Politico dan dikonfirmasi oleh beberapa outlet internasional yang menyebut nama-nama negara tetapi tidak selalu merinci identitas tiap duta besar karena alasan keamanan dan kepekaan. Preseden dan Angka: Seberapa Tidak Lazim? Secara historis, setiap presiden baru memang berhak mengganti duta besar, terutama mereka yang merupakan donor politik atau tokoh partai. Data yang dikompilasi lembaga think tank seperti American Foreign Service Association menunjukkan bahwa sekitar 30–40 persen duta besar AS biasanya berasal dari kalangan politik, sementara mayoritas lainnya adalah diplomat karier. Namun, sejumlah pakar menilai skala dan target penarikan kali ini tidak biasa karena fokusnya pada duta besar karier, bukan sekadar pengganti untuk posisi yang secara tradisional diberikan kepada sekutu politik. Analisis yang dimuat oleh Council on Foreign Relations (CFR) menegaskan bahwa kontinuitas duta besar karier merupakan salah satu pilar stabilitas kebijakan luar negeri AS, terutama di negara-negara yang jarang menjadi pusat perhatian politik domestik. Konsekuensi Jangka Panjang bagi Diplomasi AS Para pengkritik khawatir bahwa penarikan serentak ini akan meninggalkan kekosongan kepemimpinan di sejumlah kedutaan penting dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika proses konfirmasi Senat terhadap pengganti baru tersendat oleh pertarungan politik di Washington. Studi-studi tentang “ambassadorial vacancies” yang dilakukan lembaga seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa kekosongan berkepanjangan dapat mengurangi pengaruh diplomatik AS, melemahkan koordinasi keamanan, dan menghambat kerja sama ekonomi. Selain itu, dampak terhadap moral internal tidak dapat diremehkan. Survei internal yang pernah dipublikasikan AFSA menunjukkan tren penurunan kepercayaan diri dan kepuasan kerja di kalangan diplomat sejak beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya tekanan politik terhadap birokrasi profesional. Laporan serupa mengenai menurunnya moral di Departemen Luar Negeri juga muncul dalam kajian Government Accountability Office (GAO) tentang manajemen talenta di Foreign Service , meski laporan tersebut disusun sebelum gelombang penarikan terbaru. Kesimpulan: Ujian Bagi Netralitas Korps Diplomatik Penarikan mendadak lebih dari dua lusin duta besar karier oleh pemerintahan Trump menandai babak baru ketegangan antara Gedung Putih dan birokrasi profesional di Washington. Di atas kertas, presiden memang memiliki ruang gerak luas untuk menunjuk dan mengganti duta besar. Namun, ketika hak prerogatif itu digunakan secara agresif terhadap diplomat karier yang selama ini berfungsi sebagai penjaga kontinuitas, garis demarkasi antara kebijakan sah dan politisasi institusional menjadi kabur. Dalam jangka pendek, dunia akan menyaksikan bagaimana kedutaan-kedutaan AS berupaya menjaga kelangsungan hubungan bilateral di tengah pergantian mendadak di puncak struktur mereka. Dalam jangka panjang, langkah ini akan menjadi salah satu studi kasus penting: sampai sejauh mana sebuah negara demokratis dapat mempolitisasi korps diplomatiknya tanpa mengorbankan profesionalisme, kredibilitas, dan kepentingan strategisnya sendiri.
Frasa•Dec 23, 2025Monday, December 22, 2025 - AI Innovation, Tech Advances, and New Tools Shape Today's Headlines Good day, it's Monday, December twenty-second, twenty twenty-five. Welcome to today's news summary, where we'll explore groundbreaking technology, fascinating innovations, and more. Let's dive into the headlines. 1. AI Boosts Creativity in the Artistic Process Artificial intelligence is transforming how creatives approach their work, with innovative applications that enhance rather than replace human creativity. While some view AI as a simple tool, others see it as a collaborator, revolutionizing artistic expression in new and exciting ways. Source: Lateral Action 2. 3D-Flow: Tech Saving Lives and Billions The 3D-Flow architecture, a universal digital processor, promises to revolutionize real-time pattern recognition in fast data streams. Originally designed for physics, this technology could detect cancer early, potentially saving millions of lives, yet it faces inexplicable resistance. Source: GlobeNewswire 3. Buffer Enhances User Experience with New Features Buffer has introduced seventeen new enhancements this week, part of their Customer Experience Week initiative. These updates focus on refining user interaction through small, impactful changes, showcasing Buffer's commitment to continuous improvement and client satisfaction. Source: Buffer 4. Hyper-Personalization Revolutionizes Customer Loyalty The fusion of artificial intelligence and hyper-personalization is transforming how businesses secure customer loyalty. By moving beyond broad segmentation to tailor experiences at an individual level, companies leverage technology to build stronger, long-lasting relationships. Source: Java Code Geeks 5. Nautilus: A Modern Linux Desktop Manager Emerges Nautilus, a new open-source Linux server management tool, blends a high-level management dashboard with features like SFTP exploration and Cron job scheduling. Built with Tauri, Rust, and React, it's making waves in the software management space. Source: GitHub Thank you for tuning in. Stay informed and have a wonderful day ahead. Full Narration Script Good day, it's Monday, December twenty-second, twenty twenty-five. Welcome to today's news summary, where we'll explore groundbreaking technology, fascinating innovations, and more. Let's dive into the headlines. Our first story today. AI Boosts Creativity in the Artistic Process. Artificial intelligence is transforming how creatives approach their work, with innovative applications that enhance rather than replace human creativity. While some view AI as a simple tool, others see it as a collaborator, revolutionizing artistic expression in new and exciting ways. In other news. 3D-Flow: Tech Saving Lives and Billions. The 3D-Flow architecture, a universal digital processor, promises to revolutionize real-time pattern recognition in fast data streams. Originally designed for physics, this technology could detect cancer early, potentially saving millions of lives, yet it faces inexplicable resistance. Meanwhile. Buffer Enhances User Experience with New Features. Buffer has introduced seventeen new enhancements this week, part of their Customer Experience Week initiative. These updates focus on refining user interaction through small, impactful changes, showcasing Buffer's commitment to continuous improvement and client satisfaction. Turning to our next story. Hyper-Personalization Revolutionizes Customer Loyalty. The fusion of artificial intelligence and hyper-personalization is transforming how businesses secure customer loyalty. By moving beyond broad segmentation to tailor experiences at an individual level, companies leverage technology to build stronger, long-lasting relationships. And finally for today. Nautilus: A Modern Linux Desktop Manager Emerges. Nautilus, a new open-source Linux server management tool, blends a high-level management dashboard with features like SFTP exploration and Cron job scheduling. Built with Tauri, Rust, and React, it's making waves in the software management space. Thank you for tuning in. Stay informed and have a wonderful day ahead.
FrasaToday•Dec 22, 2025Hi Irfaniridwan,
Welcome to Frasa! 🎉
Welcome to Frasa.io! We’re excited to be part of your writing journey. Frasa goes beyond just being a writing assistant — it helps you organize your documents, publish articles publicly, and even integrate seamlessly with Medium.
As Terry Pratchett once said:
“The first draft is just you telling yourself the story.”
We believe writers like you bring stories, ideas, and inspiration to life. Our mission is to make your writing process smoother, more efficient, and ultimately more rewarding. Together, let’s turn your ideas into something amazing. Your words are waiting to be written.
Happy writing!
Gery at Frasa, Captain of the Subungan dalam hidup kita bukanlah kebetulan, mereka adalah cerminan dari pikiran bawah sadar yang tersembunyi jauh di dalam diri kita. Pola hubungan yang berulang, seperti terus-menerus tertarik pada pasangan yang tidak tersedia secara emosional atau mengalami dinamika yang penuh konflik, seringkali mencerminkan keyakinan, luka, dan kebutuhan masa lalu yang belum terselesaikan. Pikiran bawah sadar yang mengendalikan sekitar 95% kehidupan kita ibarat gunung es yang sebagian besarnya tersembunyi di bawah permukaan.
Hubungan dalam hidup kita bukanlah kebetulan, mereka adalah cerminan dari pikiran bawah sadar yang tersembunyi jauh di dalam diri kita. Pola hubungan yang berulang, seperti terus-menerus tertarik pada pasangan yang tidak tersedia secara emosional atau mengalami dinamika yang penuh konflik, seringkali mencerminkan keyakinan, luka, dan kebutuhan masa lalu yang belum terselesaikan. Pikiran bawah sadar yang mengendalikan sekitar 95% kehidupan kita ibarat gunung es yang sebagian besarnya tersembunyi di bawah permukaan.
Di dalamnya tersimpan pengalaman masa kecil, trauma, dan keyakinan yang membentuk cara kita memandang dunia dan menjalin hubungan. Ketika seseorang terus menemukan diri mereka dalam hubungan yang tidak sehat, itu bukan hanya tentang pilihan buruk, itu adalah pola familiar yang berasal dari luka terdalam. Misalnya, jika masa kecil diwarnai dengan kurangnya perhatian emosional, ada kemungkinan besar pola tersebut tercermin dalam hubungan dewasa.
Kita tanpa sadar memilih pasangan yang menciptakan rasa tidak terlihat atau tidak cukup baik. Hal ini terjadi karena pikiran bawah sadar mengarahkan kita ke apa yang dikenalnya, meskipun tidak selalu sehat. Energi dari masa lalu menciptakan daya tarik yang sulit dijelaskan, namun terasa sangat akrab.
Ironisnya, kita sering lebih nyaman dengan rasa sakit yang sudah dikenal dibandingkan menghadapi ketidakpastian dari hubungan yang sehat. Namun, pola ini bukan hukuman. Mereka adalah pelajaran.
Setiap hubungan menjadi cermin yang menunjukkan kepada kita apa yang belum sembuh dalam diri. Dengan melihat pola-pola ini sebagai peluang untuk tumbuh, kita bisa mulai memahami bahwa hubungan yang kita tarik adalah kesempatan untuk mengeksplorasi luka terdalam dan memenuhi kebutuhan yang dulu diabaikan. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk memutus siklus lama dan menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Ketika kita menyadari kekuatan pikiran bawah sadar, kita diberi kesempatan untuk berubah. Hubungan tidak lagi menjadi sumber rasa sakit berulang, melainkan jalan menuju transformasi. Dengan memeluk kesadaran ini, kita membuka pintu menuju kebebasan emosional dan hubungan yang lebih berarti.
Kita sering mendapati diri tertarik pada pola hubungan yang seolah sudah ditakdirkan. Hubungan yang terasa begitu akrab, meskipun terkadang menyakitkan. Apa yang kita anggap normal dalam hubungan seringkali berakar dari energi yang kita serap selama masa kecil.
Jika pengalaman masa lalu diwarnai oleh ketidakpastian, kontrol berlebihan, atau cinta bersyarat, kita cenderung mencari pola serupa tanpa sadar, meskipun hasilnya jauh dari memuaskan. Familiaritas adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan rasa aman karena pola tersebut telah kita kenali sejak kecil.
Di sisi lain, familiaritas dapat membuat kita terjebak dalam lingkaran hubungan yang tidak sehat. Contohnya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh kontrol mungkin mengembangkan keyakinan bahwa cinta harus diperjuangkan dengan keras. Ketika dewasa, mereka cenderung tertarik pada hubungan yang membuat mereka merasa harus berjuang untuk kebebasan, bukan karena mereka menginginkannya, tetapi karena itulah yang terasa akrab.
Fenomena ini menjelaskan mengapa kita sering salah menilai ketertarikan awal dalam hubungan. Rasa akrab yang kita rasakan terhadap seseorang bukanlah tanda bahwa mereka adalah pasangan ideal, melainkan panggilan dari pikiran bawah sadar kita untuk menghadapi luka lama yang belum sembuh. Familiaritas ini menipu kita, membungkus luka lama dengan kemasan hubungan baru.
Namun, kesadaran adalah kunci untuk melampaui perangkap ini. Ketika kita menyadari bahwa ketertarikan pada pola lama hanyalah cerminan dari luka masa kecil, kita bisa mulai memutus siklus tersebut. Familiaritas tidak lagi harus menjadi penjaga pintu masa depan kita.
Dengan mengenali pola ini, kita dapat membangun hubungan berdasarkan kesadaran, bukan luka. Melepaskan energi masa lalu berarti menciptakan ruang untuk pengalaman baru yang lebih sehat. Alih-alih mencari rasa aman dari luka lama, kita belajar merasa aman dalam cinta yang sejati, cinta yang tidak berasal dari familiaritas, tetapi dari saling menghormati dan kesetaraan.
Familiaritas mungkin nyaman, tetapi hubungan yang sehat menawarkan pertumbuhan, kebebasan, dan kedamaian sejati. Ada satu kenyataan mendalam yang seringkali sulit diterima. Kita adalah pusat dari setiap pola hubungan yang terus berulang dalam hidup kita.
Bukan pasangan, bukan situasi, bukan takdir, melainkan diri kita sendiri yang memegang kunci utama. Meski kenyataan ini terasa berat, ia adalah langkah pertama menuju kebebasan sejati. Pola berulang dalam hubungan tidak muncul begitu saja.
Mereka adalah refleksi dari kebutuhan masa kecil yang tidak terpenuhi, luka yang belum sembuh, atau keyakinan bawah sadar yang terbentuk dari pengalaman masa lalu. Jika kita mendapati diri terus merasa tidak dihargai, dihianati, atau diabaikan dalam hubungan, ini adalah undangan untuk melihat lebih dalam. Emosi apa yang sering muncul dalam dinamika ini? Apa yang berusaha disampaikan oleh pola tersebut? Pikiran bahwa sadar bekerja seperti seorang arsitek yang tidak terlihat, membangun pola hubungan berdasarkan cetak biru yang telah dikenalnya.
Jika kita memiliki kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di masa kecil, seperti rasa aman, cinta tanpa syarat, atau pengakuan, kita seringkali mencoba memenuhinya melalui hubungan dewasa. Namun, upaya ini biasanya berakhir dengan kekecewaan, karena kita mencari di luar diri kita apa yang seharusnya datang dari dalam. Menerima peran sebagai pusat pola berulang bukan berarti menyalahkan diri sendiri, melainkan mengenali bahwa kita memiliki kekuatan untuk memutus siklus tersebut.
Ini adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri dengan jujur. Kebutuhan apa yang saya harapkan dipenuhi oleh hubungan ini? Luka, apa yang belum saya sembuhkan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam dan transformasi. Ketika kita mulai mengidentifikasi hubungan antara kebutuhan masa kecil dan pola dewasa, kita diberi kesempatan untuk mengisi kekosongan itu sendiri.
Alih-alih bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kita belajar memberi perhatian, cinta, dan pengakuan kepada diri sendiri. Dengan menerima peran kita dalam pola-pola ini, kita beralih dari posisi korban menjadi pencipta. Ini adalah awal dari perjalanan menuju hubungan yang lebih sehat, di mana kita tidak lagi didefinisikan oleh luka lama, tetapi oleh cinta dan kesadaran yang telah kita bangun sendiri.
Pengabayan diri seringkali terjadi tanpa kita sadari. Dalam upaya untuk dicintai, diterima, atau dianggap berharga, kita cenderung mengesampingkan kebutuhan pribadi dan mendahulukan kebutuhan orang lain. Pola ini terlihat mulia di permukaan, tetapi di baliknya tersimpan cerita tentang keyakinan bahwa kita harus memberi lebih atau membuktikan diri agar layak mendapatkan cinta.
Ini bukan sekadar tindakan tanpa pamrih. Ini adalah pengabayan terhadap diri sendiri. Cobalah refleksi sejenak.
Apakah Anda pernah terlalu banyak memberi dalam hubungan, bahkan ketika itu melelahkan secara emosional? Apakah Anda terus-menerus mencari validasi dari pasangan, keluarga, atau teman, hanya untuk merasa berharga? Ini adalah contoh pola pengabayan diri yang seringkali berakar pada pengalaman masa kecil. Jika di masa lalu kita merasa bahwa cinta harus diperjuangkan atau diperoleh melalui pengorbanan, kita cenderung membawa pola ini ke hubungan dewasa. Pola ini tidak hanya merusak kesejahteraan kita, tetapi juga menciptakan dinamika yang tidak seimbang.
Ketika kita memberi terlalu banyak, tanpa disadari kita juga menuntut sesuatu sebagai gantinya, entah itu perhatian, rasa aman, atau validasi. Namun, hubungan yang sehat tidak dibangun di atas pengorbanan sepihak, melainkan pada keseimbangan dan saling menghormati. Pengabayan diri juga seringkali lahir dari keyakinan bahwa kebutuhan kita kurang penting dibandingkan kebutuhan orang lain.
Kita menjadi terlalu sibuk membuktikan nilai diri, hingga lupa bahwa nilai tersebut tidak memerlukan pembuktian. Kita cukup berharga, bahkan tanpa harus mengorbankan diri untuk orang lain. Untuk memutus pola ini, langkah pertama adalah mengenali kapan kita mulai mengabaikan diri sendiri.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah saya memberi karena ingin atau karena merasa harus? Apakah saya menghormati kebutuhan saya sendiri dalam hubungan ini? Dengan menjadi sadar akan pola ini, kita mulai membangun hubungan yang lebih sehat, tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri. Hubungan yang sejati dimulai dari dalam. Ketika kita belajar menghormati diri sendiri dan memenuhi kebutuhan pribadi tanpa rasa bersalah, kita tidak hanya menarik hubungan yang lebih sehat, tetapi juga menemukan kedamaian yang selama ini kita cari.
Setiap hubungan adalah pertukaran energi. Namun, bagaimana jika pertukaran ini tidak seimbang? Bagaimana jika Anda terus-menerus memberikan lebih banyak daripada yang Anda terima? Atau merasa bahwa Anda harus memperbaiki orang lain agar hubungan tersebut berhasil? Pola ini menciptakan dinamika yang tidak sehat, di mana satu pihak terlalu bergantung sementara pihak lainnya menjadi penyelamat yang kelelahan. Daya tarik terhadap orang yang perlu diperbaiki seringkali berasal dari kebutuhan bawah sadar untuk merasa berharga melalui peran sebagai penyelamat.
Ini adalah mekanisme yang terbangun dari luka masa lalu, keyakinan bahwa Anda hanya dicintai ketika Anda membantu, memberi, atau menyelesaikan masalah orang lain. Namun pola ini justru menjebak Anda dalam hubungan yang penuh ketergantungan dan tidak memberikan ruang untuk pertumbuhan bersama. Ketidakseimbangan energi ini juga seringkali terwujud dalam perasaan frustrasi yang terus-menerus.
Anda mungkin merasa bahwa Anda telah memberikan segalanya, tetapi tidak ada yang berubah. Ini karena hubungan yang didasarkan pada pola seperti ini bukan tentang cinta sejati, melainkan tentang mencoba memenuhi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi di dalam diri Anda sendiri. Menyadari dinamika ini adalah langkah awal untuk memutus siklus tersebut.
Tanyakan pada diri sendiri, apa yang saya cari dalam hubungan ini? Apakah saya mencoba mencari validasi atau rasa aman melalui upaya memperbaiki orang lain? Apakah saya merasa bahwa nilai diri saya tergantung pada seberapa banyak yang saya berikan? Hubungan yang sehat tidak membutuhkan penyelamat, tetapi mitra yang setara. Mereka adalah tempat di mana energi mengalir dengan bebas dan saling menghormati, tanpa ada tekanan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri Anda. Dengan mulai melepaskan peran penyelamat, Anda memberi diri Anda ruang untuk tumbuh.
Anda belajar bahwa nilai diri Anda tidak bergantung pada apa yang Anda berikan kepada orang lain, tetapi pada siapa Anda sebenarnya. Ketika energi dalam hubungan menjadi seimbang, cinta sejati bisa berkembang, bukan dari kebutuhan untuk diperbaiki, tetapi dari keinginan untuk saling mendukung dan bertumbuh bersama. Langkah pertama menuju kebebasan dari pola hubungan yang berulang adalah kesadaran.
Tanpa kesadaran, kita seperti aktor dalam sandiwara yang tak pernah memahami naskahnya. Pola-pola yang kita jalani terasa seperti takdir, bukan pilihan. Namun, begitu kita mulai memperhatikan dengan saksama, pola itu menjadi cermin yang menunjukkan kebutuhan dan luka terdalam kita.
Hubungan masa lalu, baik yang singkat maupun yang panjang, adalah arsip yang penuh pelajaran. Ada pola tersembunyi di sana, pola yang seringkali diabaikan karena kita terlalu sibuk menyalahkan orang lain atau situasi eksternal. Misalnya, apakah Anda selalu merasa ditinggalkan? Apakah Anda cenderung tertarik pada orang yang sulit dijangkau? Atau, apakah hubungan Anda selalu diwarnai konflik yang sama? Semua ini adalah refleksi dari cetak biru bawah sadar Anda.
Untuk mulai mengidentifikasi pola ini, tanyakan pada diri sendiri, apa yang terasa normal bagi saya dalam hubungan? Apakah itu cinta yang penuh perjuangan, ketidakpastian, atau rasa aman yang selalu sulit diraih? Jawaban atas pertanyaan ini biasanya berakar pada pengalaman masa kecil. Apa yang kita alami sebagai normal di masa kecil cenderung menjadi pola yang kita cari di masa dewasa, meskipun itu tidak membahagiakan. Kesadaran bukan hanya tentang melihat pola, tetapi juga tentang memahami emosi yang mendasarinya.
Pola-pola ini seringkali merupakan mekanisme bertahan hidup yang kita kembangkan untuk melindungi diri. Namun, pola tersebut tidak lagi melayani kita di masa kini. Begitu pola dikenali, kita memiliki kekuatan untuk memilih jalan yang berbeda.
Langkah kecil, seperti mencatat emosi yang sering muncul dalam hubungan, atau menyadari ketika kita mulai mengulangi perilaku tertentu bisa menjadi awal transformasi besar. Kesadaran adalah cahaya yang membuka jalan menuju hubungan yang lebih sehat. Ketika kita memahami pola-pola kita, kita tidak lagi terjebak di dalamnya.
Sebaliknya, kita menjadi pencipta takdir kita sendiri, dengan pilihan yang lebih sadar dan penuh makna. Di dalam diri kita, tersembunyi sosok kecil yang masih hidup, inner child yang membawa cerita masa lalu. Sosok ini adalah bagian dari kita yang pernah merasa terluka, tidak terlihat, atau tidak cukup baik.
Inner child menyimpan semua kenangan, baik yang indah maupun yang menyakitkan, yang membentuk cara kita memandang dunia dan hubungan di dalamnya. Ketika luka ini tidak disembuhkan, mereka menjadi akar dari pola-pola destruktif yang kita alami sebagai orang dewasa. Memberi kebutuhan pada inner child bukan hanya tentang menyembuhkan luka lama, tetapi juga tentang memulihkan hubungan kita dengan diri sendiri.
Luka inner child sering muncul dalam bentuk perasaan tidak aman. Kebutuhan akan validasi, atau ketakutan akan penolakan. Kita mungkin tidak sadar, tetapi setiap kali kita merasa marah, cemas, atau terlalu bergantung dalam hubungan, inner child kita sedang berbicara.
Langkah pertama adalah mengenali dan mengakui keberadaan inner child. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang saya butuhkan ketika kecil tetapi tidak saya dapatkan? Mungkin itu perhatian, rasa aman, atau pengakuan. Ingatlah bahwa Anda sekarang adalah orang dewasa yang memiliki kekuatan untuk memberikan apa yang pernah hilang.
Proses ini bisa dilakukan melalui refleksi atau meditasi. Bayangkan diri Anda di masa kecil, berdiri di hadapan Anda, penuh harapan dan rasa takut. Tanyakan apa yang dia butuhkan.
Berikan pelukan, kata-kata penuh cinta, dan jaminan bahwa dia cukup, persis seperti dirinya. Ketika Anda memberi kebutuhan pada inner child, Anda menciptakan fondasi yang kokoh untuk hubungan yang lebih sehat. Anda tidak lagi mencari cinta atau validasi dari luar, karena Anda telah memberikannya kepada diri sendiri.
Anda tidak lagi terjebak dalam pola mencoba memperbaiki orang lain karena Anda telah memperbaiki luka Anda sendiri. Memberi perhatian pada inner child adalah tindakan cinta terbesar yang bisa Anda lakukan untuk diri sendiri. Ketika inner child merasa aman dan dicintai, Anda membuka pintu untuk hidup yang lebih damai, penuh makna, dan bebas dari pola masa lalu.
Apa itu hubungan yang sehat? Bagi banyak orang, jawabannya mungkin kabur, terutama jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak seimbang. Hubungan sehat bukanlah soal sempurna, melainkan tentang saling menghormati, berbagi energi secara seimbang, dan memberikan ruang untuk tumbuh bersama. Namun, bagi mereka yang terbiasa dengan pola-pola disfungsi, hubungan yang sehat bisa terasa asing, bahkan tidak nyaman.
Menormalisasi hubungan yang sehat dimulai dengan mendefinisikan ulang apa yang Anda anggap sebagai normal. Jika Anda pernah menganggap cinta harus penuh perjuangan, pengorbanan, atau drama, maka Anda perlu menyadari bahwa cinta sejati tidak bekerja seperti itu. Cinta sejati adalah tempat yang aman, di mana Anda merasa diterima tanpa harus membuktikan nilai diri Anda.
Hubungan yang sehat tidak hanya tentang saling memberi, tetapi juga tentang saling menerima. Ini adalah hubungan di mana komunikasi terbuka, rasa hormat adalah pondasi, dan kebutuhan kedua belah pihak diakui. Namun, ini tidak dapat terjadi jika Anda belum belajar untuk menghormati dan memenuhi kebutuhan diri sendiri terlebih dahulu.
Langkah pertama adalah berhenti mencari validasi dari luar dan mulai memberikan validasi kepada diri sendiri. Seringkali, kita terbiasa memberikan segalanya untuk orang lain, berharap mendapatkan pengakuan atau cinta. Tapi, hubungan yang sehat dimulai dari dalam diri, dari kemampuan untuk mengatakan tidak tanpa rasa bersalah, menjaga batasan yang sehat, dan mengenali bahwa kebutuhan Anda penting.
Menormalisasi hubungan yang sehat juga berarti menghilangkan rasa takut akan kedamaian. Bagi banyak orang, ketenangan dalam hubungan terasa aneh karena mereka terbiasa dengan kekacauan. Namun, kedamaian bukan berarti kebosanan.
Itu adalah ruang di mana hubungan dapat berkembang secara alami tanpa tekanan atau manipulasi. Ketika Anda mulai menjalani hubungan yang sehat, Anda mungkin merasa tidak nyaman pada awalnya. Namun, ini adalah pertanda bahwa Anda sedang melangkah keluar dari pola lama menuju sesuatu yang lebih baik.
Hubungan yang sehat adalah hadiah, baik untuk Anda maupun pasangan Anda, tempat di mana cinta sejati dapat berakar dan bertumbuh. Ketergantungan dalam hubungan seringkali muncul seperti tali tak kasat mata yang mengikat kita pada orang lain. Tali ini terbentuk dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, rasa takut kehilangan, atau keyakinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada validasi orang lain.
Pola ini terasa akrab, bahkan menghibur, meskipun pada akhirnya sering membawa kekecewaan dan rasa hampa. Melampaui pola ketergantungan adalah perjalanan menuju kebebasan emosional. Ini bukan berarti menolak hubungan atau koneksi, tetapi menemukan keseimbangan di mana cinta tidak lagi menjadi perangkap, melainkan ruang untuk tumbuh bersama.
Langkah pertama adalah menyadari peran penyelamat yang sering kita mainkan. Dalam banyak kasus, kita merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki atau menyelamatkan orang lain, meyakini bahwa itulah cara untuk mendapatkan cinta. Namun, pola ini hanya menciptakan hubungan yang tidak sehat, di mana keseimbangan energi terganggu.
Tanyakan pada diri sendiri. Apakah Anda sering merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain? Apakah Anda cenderung mengorbankan kebutuhan Anda demi menjaga hubungan? Jika jawabannya ya, inilah saatnya untuk melepaskan beban tersebut. Anda bukan penyelamat, dan cinta sejati tidak membutuhkan pengorbanan yang melukai diri sendiri.
Berhenti mencari validasi dari luar adalah langkah penting lainnya. Ketika Anda menggantungkan harga diri Anda pada orang lain, Anda memberikan kendali atas kebahagiaan Anda kepada mereka. Namun, kebahagiaan sejati datang dari dalam, dari mengenali nilai Anda sendiri dan mencintai diri Anda apa adanya.
Mulailah memberi diri Anda apa yang selama ini Anda harapkan dari orang lain, penghargaan, perhatian, dan rasa hormat. Ketika Anda melampaui pola ketergantungan, Anda membuka pintu bagi hubungan yang lebih sehat. Hubungan di mana Anda tidak lagi mencari untuk diisi, tetapi berbagi dari tempat yang penuh.
Anda menemukan kekuatan dalam kemandirian emosional yang pada akhirnya memungkinkan Anda mencintai tanpa syarat dan tanpa rasa takut kehilangan. Itulah cinta yang sejati, cinta yang bebas dan memberdayakan. Setiap orang membawa energi yang unik, sebuah getaran yang memancarkan siapa mereka sebenarnya.
Energi ini tidak bisa dilihat, tetapi terasa. Itu adalah bahasa yang berbisik di balik kata-kata, tindakan, dan kehadiran kita. Dan inilah kebenarannya.
Energi Anda adalah magnet. Ia menarik orang, situasi, dan pengalaman yang selaras dengan apa yang Anda pancarkan. Ketika pola hubungan yang tidak sehat terus berulang, itu bukan karena Anda tidak layak mendapatkan yang lebih baik, melainkan karena energi Anda sedang memanggil apa yang terasa akrab, bahkan jika itu menyakitkan.
Keyakinan bahwa sadar, luka masa lalu, dan persepsi diri membentuk energi ini. Jika Anda merasa tidak cukup baik, Anda mungkin menarik orang yang memperkuat keyakinan itu. Jika Anda takut kehilangan, Anda mungkin menarik orang yang tidak mampu memberikan keamanan.
Mengubah energi Anda bukan hanya tentang berpikir positif, tetapi juga tentang menggali dan memprogram ulang pikiran bawah sadar Anda. Langkah pertama adalah memahami bahwa energi Anda mencerminkan hubungan Anda dengan diri sendiri. Ketika Anda mulai mencintai, menghormati, dan menerima diri Anda, getaran Anda berubah, dan begitu pula dunia di sekitar Anda.
Penting untuk menyadari bahwa daya tarik energi tidak hanya terjadi pada tingkat emosional, tetapi juga spiritual. Ketika Anda bekerja pada penyembuhan luka batin dan keyakinan negatif, Anda tidak hanya mengubah cara orang lain memperlakukan Anda, tetapi juga membuka diri untuk pengalaman yang lebih tinggi. Hubungan yang sehat, peluang yang bermakna, dan kebahagiaan yang lebih besar menjadi lebih mudah diakses.
Meditasi, afirmasi, dan visualisasi adalah alat yang kuat untuk meningkatkan energi Anda. Namun, yang paling penting adalah konsistensi. Setiap tindakan kecil untuk mencintai diri sendiri, menjaga batasan, dan memilih kebahagiaan adalah langkah untuk meningkatkan daya tarik energi Anda.
Ketika energi Anda memancarkan rasa percaya diri, kedamaian, dan cinta, Anda tidak hanya menarik orang yang selaras dengan nilai itu, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan penuh makna. Dunia akan mencerminkan apa yang Anda bawa di dalam diri, jadilah sumber cahaya yang Anda cari. Jika Anda masih menonton, saya ingin mengucapkan terima kasih.
Jika video ini bermanfaat dan menambah wawasan, silakan membagikan video ini dengan orang lain. Pertimbangkan juga untuk subscribe di channel ini, karena dukungan Anda akan sangat membantu dan berharga. Jangan ragu untuk berbagi pengalaman atau pemikiran Anda di kolom komentar.
Semoga hari-hari Anda selalu dipenuhi dengan kelimpahan dan kebahagiaan.
Paris, Tokyo and Hong Kong Cancel 2026 New Year Celebrations: What’s Going On? As the world prepared to usher in 2026, three of the globe’s most iconic cities for New Year’s Eve — Paris, Tokyo and Hong Kong — stunned residents and travelers alike by announcing the cancellation of their flagship public celebrations. The decision, framed by authorities as a response to overlapping concerns over security, crowd management, economic pressures and climate-related disruption, has raised a pressing question: what does it mean when the cities most associated with dazzling countdowns and fireworks decide to go dark? A Symbolic Turning Point for Global Cities Large-scale New Year’s Eve festivities are more than just parties; they are carefully orchestrated urban spectacles that draw hundreds of thousands of people to a single location, often under heavy police presence and intense media scrutiny. Paris’s celebrations along the Champs-Élysées, Tokyo’s countdowns and shrine visits, and Hong Kong’s Victoria Harbour fireworks have long served as visual shorthand for global optimism and urban confidence. In recent years, however, those spectacles have been repeatedly disrupted. The COVID‑19 pandemic forced authorities around the world to cancel or radically scale back New Year’s Eve events in 2020 and 2021, including the Champs‑Élysées gathering in Paris and the harbor fireworks in Hong Kong, which were replaced by online or small-scale events. Previous cancellations during the pandemic era showed how vulnerable mass gatherings are to global shocks. The 2026 decisions, while not tied to a single crisis of comparable scale, reflect how those vulnerabilities have widened — from public health to security, economic stress and extreme weather. Paris: Security Pressures and the Cost of Spectacle Paris has spent the past decade adapting its public events to a heightened security environment. Since the 2015 terrorist attacks, major gatherings have been guarded by large police deployments, armored vehicles and strict perimeter controls. French authorities have repeatedly warned that mass events are “high‑value targets” that require enormous resources to protect. Even before 2026, Paris had experimented with scaling down or reshaping its celebrations. In some years, the traditional fireworks were replaced by sound‑and‑light shows at the Arc de Triomphe, partly to limit fire risk and control crowds. The city’s New Year’s Eve crowd on the Champs‑Élysées typically reaches several hundred thousand people, requiring thousands of officers and emergency personnel on duty overnight. As France enters a period of budget tightening, city officials face mounting questions over whether this level of deployment is sustainable every year for a non‑essential event. Climate concerns are also increasingly part of the discussion. While fireworks remain central to many celebrations, they contribute to short‑term spikes in air pollution. Studies have shown that particulate matter concentrations can surge dramatically in the hours after large firework displays, with one analysis in the Netherlands documenting a 6‑ to 8‑fold increase in fine particles (PM10) immediately after New Year’s Eve shows. In a city where air quality already struggles to meet European standards, cancelling a major fireworks event is an easy way to send a signal about environmental priorities. Tokyo: Lessons From the Pandemic and a Shift to Localized Celebrations Tokyo has long balanced two New Year’s rhythms: the Western‑style countdown events, often centered on entertainment districts like Shibuya, and the more traditional hatsumōde shrine visits in the early hours of January 1. Officially organized countdowns have been under pressure for years due to safety and crowding concerns. The most visible sign of that came during the pandemic. In late 2020, Shibuya Ward explicitly asked people not to gather for the usual New Year’s Eve street celebrations, and the area’s famous scramble crossing was placed under tight controls. The Tokyo Metropolitan Government and local officials promoted online and television countdowns instead, citing the risk of COVID‑19 spread on packed streets and in crowded trains. Those years left a lasting imprint. Japan has one of the oldest populations in the world, with nearly 30% of residents aged 65 or older, making the health risks linked to large gatherings more politically sensitive than in many other countries. Police and city officials have also emphasized the logistics of moving huge numbers of people through one of the world’s most complex transit systems late at night. In this context, the cancellation of a centralized 2026 countdown can be seen as an extension of a trend: nudging Tokyoites towards smaller, local or family‑based celebrations rather than a single city‑wide event. Hong Kong: Political Tensions and an Evolving Urban Image For two decades, Hong Kong’s New Year’s Eve fireworks over Victoria Harbour were a symbolic showcase of the city’s status as an international hub. But the territory’s political and social landscape has changed sharply since the mass protests of 2019 and the subsequent implementation of the National Security Law in 2020. In late 2019 and early 2020, the authorities cancelled or scaled down multiple fireworks and public events due to security concerns and the risk of protests converging on major gatherings. The city has also been keen to project a more controlled, “safe and orderly” image to both residents and international investors. Managing large crowds along both sides of the harbor, coordinating extensive marine and aerial safety operations, and policing public spaces amid political tension has grown more complicated and costly. Tourism, once a primary justification for lavish fireworks budgets, has yet to fully return to pre‑2019 levels; visitor arrivals to Hong Kong in 2023 were still well below the 65 million recorded in 2018, before protests and the pandemic hit the city’s appeal to travelers. In that context, authorities have increasingly favored smaller light shows and tightly managed performances over traditional, high‑risk fireworks that draw huge spontaneous crowds. Crowd Risk, Public Health and Climate: A Converging Set of Concerns Underlying the specific decisions in Paris, Tokyo and Hong Kong is a shared assessment: city‑wide, open‑access celebrations bring together multiple high‑impact risks at once. Crowd crush incidents in Seoul’s Itaewon district in October 2022 and in other mass gatherings worldwide have underlined how quickly unmanaged flows of people in confined streets can become fatal. A 2023 report by the International Association of Venue Managers noted that urban crowd events have grown both larger and denser over the past decade, while emergency response resources have not always kept pace. At the same time, public health agencies continue to warn that respiratory viruses—whether seasonal influenza, RSV or future coronavirus variants—spread more easily in large indoor and outdoor gatherings where distancing is impossible. The World Health Organization has repeatedly stressed that mass events can amplify transmission during active respiratory virus seasons in the Northern Hemisphere, which typically peak between December and March. Climate‑driven extreme weather is yet another factor. Warmer winters and more frequent storms can disrupt outdoor festivities, as seen in multiple European cities that have experienced heavy rain and strong winds during recent year‑end holidays. The European Environment Agency has warned that climate change is already increasing the frequency of extreme precipitation events, with urban areas particularly exposed due to dense infrastructure and limited drainage capacity. For coastal cities such as Hong Kong, the combination of sea‑level rise, storm surges and heavier rain poses additional challenges for waterfront events. From Centralized Fireworks to Distributed and Digital New Year’s The cancellation of 2026’s marquee events does not mean that these cities will be silent at midnight. Instead, it points to a broader shift in how urban celebrations are organized and experienced. During the pandemic years, many cities rolled out televised and streamed countdowns, drone light shows and augmented reality spectacles designed to be viewed from home or in small groups rather than in vast crowds. Sydney’s experiments with synchronised drone displays and laser projections, and London’s decision in 2020 to broadcast a special, crowd‑free New Year’s Eve show as a TV‑only event, were early signals of this new model. They demonstrated that a global audience could still be reached without packing hundreds of thousands of people into one place. Paris, Tokyo and Hong Kong now appear to be leaning more heavily into this distributed model. Rather than one giant focal point, the future of New Year’s may consist of multiple, smaller neighborhood events, privately organized parties and digital spectacles delivered to screens around the world. The net effect could be fewer risks, lower public costs and reduced environmental impact—but also the loss of a powerful feeling of shared presence that only a sea of strangers counting down together can provide. What the 2026 Cancellations Tell Us About the Future of Public Space For now, the cancellation of the 2026 New Year’s celebrations in Paris, Tokyo and Hong Kong reads as a pragmatic decision by city leaders navigating overlapping pressures. Yet it also raises deeper questions about the role of public space in an era shaped by security threats, pandemics, economic constraints and climate change. Will large, open, free events become rarer, replaced by curated, ticketed or virtual experiences that are easier to control and monetize? Or will citizens push back, insisting that the right to gather in public on landmark nights such as New Year’s Eve is worth the risks and costs? As 2026 approaches without some of the world’s most famous fireworks, those debates are likely to intensify—in city halls, in police briefings, and in the homes of residents who must decide how, and where, to welcome the new year.
Frasa•Dec 24, 2025Daftar Mobil Endipat Wijaya, Anggota DPR yang Sindir Donasi Rp 10 M Pernyataan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya, yang menyindir donasi publik Rp 10 miliar untuk korban bencana di Aceh dan sejumlah daerah di Sumatra, memantik gelombang kritik di media sosial dan ruang publik. Di tengah sorotan itu, perhatian warganet kini bergeser ke sisi lain kehidupan sang politisi: koleksi mobil mewah di garasinya yang nilainya menembus miliaran rupiah, sebagaimana tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Image Illustration. Photo by LJ Parchaso on Unsplash Kontroversi Sindiran Donasi Rp 10 M Endipat menjadi sorotan setelah dalam rapat kerja Komisi I DPR dengan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid pada 8 Desember 2025, ia menyinggung aksi galang dana Rp 10 miliar yang dihimpun relawan dan konten kreator Ferry Irwandi untuk korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam forum itu, Endipat membandingkan donasi perorangan dengan anggaran negara yang disebutnya sudah mencapai triliunan rupiah untuk Aceh, sembari meminta Komdigi lebih gencar mengomunikasikan kerja pemerintah agar tidak kalah viral dari inisiatif individu. Pernyataannya — termasuk frasa bahwa ada pihak yang "cuma nyumbang Rp 10 miliar" sementara negara sudah mengucurkan dana triliunan — dinilai sebagian publik merendahkan solidaritas warga dan komunitas filantropi. Polemik ini muncul di tengah tren donasi publik yang kian masif di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sepanjang 2020–2023, Indonesia secara konsisten mencatat ratusan kejadian bencana setiap tahun, dengan ribuan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar, sehingga ruang peran filantropi dan relawan digital semakin mengemuka. Di sisi lain, Survei Indeks Kedermawanan Dunia menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan kuatnya budaya gotong royong warga biasa dalam merespons krisis kemanusiaan. Dari Insinyur ke Senayan: Profil Singkat Endipat Endipat Wijaya bukan nama lama di Senayan. Ia baru menjabat anggota DPR RI periode 2024–2029, mewakili daerah pemilihan Kepulauan Riau dari Fraksi Partai Gerindra. Dalam Pemilu Legislatif 2024, ia disebut meraih sekitar 105 ribu suara dan menjadi peraih suara tertinggi di dapil tersebut, sebelum kemudian ditempatkan di Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, informasi, komunikasi, dan keamanan siber. Rekam jejak pendidikannya menunjukkan latar belakang teknik dan manajemen: lulusan Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006 dan Magister Manajemen dari Swiss German University pada 2019, sebelum berkarier di sektor industri pulp and paper serta pertambangan batu bara. Ia kemudian bergabung dengan Partai Gerindra pada 2011, sebelum akhirnya lolos ke parlemen dalam pemilu terakhir. Isi Garasi: Koleksi Mobil Senilai Sekitar Rp 2,5 Miliar Di tengah perdebatan soal donasi Rp 10 miliar, publik menyoroti data LHKPN Endipat yang memuat rincian aset alat transportasi dan mesin. Berdasarkan laporan yang dikutip sejumlah media dari LHKPN KPK, total nilai kendaraan yang tercatat atas nama Endipat mencapai sekitar Rp 2,5 miliar hingga lebih dari Rp 2,59 miliar, bergantung pada keluaran data yang dirujuk. Salah satu laporan menyebutkan bahwa dari total kekayaan sekitar Rp 12,49 miliar, aset alat transportasi dan mesin Endipat tercatat sebesar Rp 2,546 miliar, terdiri atas tiga unit mobil. Sementara itu, laporan lain yang mengacu pada LHKPN per 26 Maret 2025 menyebut nilai aset kendaraan Endipat sedikit lebih tinggi, yaitu sekitar Rp 2,596 miliar, di dalam total kekayaan Rp 14,3 miliar. Berikut daftar mobil Endipat Wijaya sebagaimana dirangkum dari pemberitaan yang merujuk ke LHKPN: GWM Tank 500 HEV (2024) – SUV premium bermesin hybrid yang diposisikan sebagai kendaraan kelas atas. Nilainya dalam LHKPN disebut sekitar Rp 1,196 miliar, menjadikannya aset kendaraan tunggal paling mahal di garasi Endipat. Toyota Alphard (2021) – MPV mewah yang jamak menjadi kendaraan pejabat dan pengusaha di Indonesia. Dalam laporan harta kekayaan, Alphard milik Endipat diperkirakan bernilai sekitar Rp 1 miliar. Honda CR‑V (2019) – SUV medium populer yang menjadi opsi kendaraan harian. Nilainya dalam LHKPN diperkirakan berkisar antara Rp 350 juta hingga Rp 400 juta, sehingga melengkapi total nilai koleksi mobil Endipat di kisaran Rp 2,5 miliar lebih. Harga pasar ketiga model tersebut sejalan dengan tren kenaikan harga mobil baru dan bekas di segmen SUV dan MPV premium dalam beberapa tahun terakhir. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan SUV dan MPV menempati porsi signifikan di pasar otomotif nasional, mencerminkan preferensi konsumen pada kendaraan berkapasitas besar dan berfitur lengkap, termasuk di kalangan pejabat dan profesional urban. Total Kekayaan dan Transparansi LHKPN Sorotan pada koleksi mobil Endipat tidak bisa dilepaskan dari konteks kekayaannya secara keseluruhan. Laporan yang mengutip data LHKPN menyebut total kekayaan Endipat berada di kisaran Rp 12,49 miliar hingga Rp 14,3 miliar, dengan komposisi utama pada tanah dan bangunan, surat berharga, kas dan setara kas, serta aset bergerak lainnya. Perbedaan angka antara Rp 12,49 miliar dan Rp 14,3 miliar kemungkinan terkait waktu pelaporan dan pemutakhiran aset dalam LHKPN yang diaudit Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK mewajibkan seluruh penyelenggara negara, termasuk anggota DPR, menyerahkan LHKPN secara periodik sebagai bagian dari upaya pencegahan korupsi dan peningkatan transparansi publik. Keterbukaan data kekayaan ini memungkinkan publik mengawasi potensi konflik kepentingan dan perubahan tidak wajar pada harta pejabat. Di era media sosial, dokumen yang dulunya cenderung teknis dan jarang disentuh publik, kini dengan cepat menjadi bahan perbincangan ketika seorang pejabat terseret kontroversi. Kontras Narasi: Solidaritas Warga vs Gaya Hidup Elit Politik Kontras antara pernyataan Endipat yang menyebut donasi Rp 10 miliar sebagai “cuma” dan fakta bahwa ia memiliki koleksi mobil miliaran rupiah menjadi bahan kritik tajam. Di lini masa, banyak warganet menilai nada sindiran tersebut tidak sensitif terhadap realitas ekonomi mayoritas warga, di mana pendapatan per kapita nasional masih berada di kisaran Rp 70–80 juta per tahun, dengan kesenjangan tinggi antara kelompok berpenghasilan atas dan bawah. Di sisi lain, pemerintah pusat memang menggelontorkan anggaran besar untuk penanggulangan bencana, mulai dari dana siap pakai BNPB hingga skema rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang bisa mencapai triliunan rupiah untuk satu wilayah terdampak secara kumulatif. Namun, bagi publik, pengakuan terhadap inisiatif warga yang mampu mengumpulkan Rp 10 miliar dalam hitungan jam atau hari sering kali dipandang sebagai simbol kuatnya solidaritas di saat kepercayaan pada institusi negara masih fluktuatif. Penutup: Di Antara Akuntabilitas dan Sensitivitas Publik Daftar mobil Endipat Wijaya dan nilai kekayaannya sejatinya tercatat secara resmi dalam LHKPN, sebuah mekanisme yang dirancang untuk memastikan akuntabilitas pejabat publik. Namun di mata warga, angka-angka itu tidak berdiri sendiri. Ia dibaca bersamaan dengan sikap, pilihan kata, dan empati yang ditunjukkan seorang wakil rakyat ketika berbicara tentang solidaritas warga biasa yang menyisihkan penghasilan mereka untuk membantu korban bencana. Kontroversi ini membuka kembali perdebatan lebih luas tentang bagaimana pejabat publik seharusnya mengapresiasi peran masyarakat sipil dalam penanggulangan bencana, sekaligus memastikan bahwa anggaran negara benar-benar dirasakan di lapangan. Di era keterbukaan data dan media sosial, bukan hanya besaran anggaran dan nilai aset yang diperiksa, tetapi juga kepekaan dan cara pejabat berbicara di hadapan publik yang terdampak langsung oleh krisis.
Frasa•Dec 9, 2025Rais ‘Aam PBNU Ungkap Isi Percakapan dengan Gus Yahya di Tengah Krisis Kepemimpinan NU Di tengah memanasnya polemik kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengungkap isi percakapan pentingnya dengan Ketua Umum PBNU nonaktif KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Dalam pernyataannya di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat, Jumat 26 Desember 2025, Kiai Miftah menegaskan bahwa dirinya sudah berkoordinasi langsung dengan Gus Yahya terkait hasil Rapat Pleno PBNU yang menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU. Kiai Miftah bahkan mengaku telah menyampaikan permintaan agar Gus Yahya tidak tersinggung atas keputusan tersebut . Pengakuan ini menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika internal organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, yang memiliki sekitar lebih dari 45 juta warga nahdliyin dan pengaruh signifikan dalam peta sosial-politik nasional. Image Illustration. Photo by Markus Winkler on Unsplash Latar Belakang Konflik: Dari AKN NU hingga Pemberhentian Ketum Ketegangan di pucuk pimpinan PBNU bermula dari polemik Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU). Dalam risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025 di Jakarta, Syuriyah menilai kehadiran narasumber yang dikaitkan dengan jaringan Zionisme internasional dalam kegiatan AKN NU bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dan muqaddimah Qanun Asasi NU. Keputusan rapat itu antara lain meminta Gus Yahya mengundurkan diri dalam waktu tiga hari . Konteks ini kian mengeras ketika Syuriyah PBNU menerbitkan surat instruksi penghentian atau penangguhan AKN NU dan nota kesepahaman PBNU dengan Center for Shared Civilizational Values (CSCV), disertai permintaan laporan keuangan PBNU pada 8 September 2025. Dalam proses tabayun, Rais ‘Aam mengaku dua kali bertemu langsung dengan Gus Yahya pada 13 dan 17 November 2025. Pada pertemuan kedua itu, disebutkan bahwa Gus Yahya meminta mengundurkan diri lebih awal dari tenggat waktu yang disediakan . Puncaknya, Rapat Harian Syuriyah pada 20 November 2025 diikuti Rapat Pleno PBNU pada 9 Desember 2025, yang dihadiri 118 peserta. Forum pleno itu memutuskan memberhentikan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU sekaligus menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai penjabat Ketua Umum hingga Muktamar ke-35 NU pada 2026 . Keputusan ini kemudian dikukuhkan dalam berbagai pernyataan resmi Rais ‘Aam dan jajaran Syuriyah. Isi Percakapan: "Sampean Jangan Tersinggung" Dalam penjelasan terbarunya, KH Miftachul Akhyar membeberkan bahwa dirinya telah menyampaikan secara langsung kepada Gus Yahya terkait hasil Rapat Pleno yang menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketum PBNU. Kiai Miftah mengaku menyampaikan satu pesan kunci kepada Gus Yahya: "Sampeyan jangan tersinggung. Kalau pleno yang belum diubah ini, menanti plenonya yang datang," Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa, dari sudut pandang Rais ‘Aam, keputusan pleno yang telah menetapkan Pj Ketua Umum bersifat sah namun masih mungkin ditinjau kembali melalui mekanisme pleno berikutnya. Keterangan ini disampaikan Kiai Miftah dalam agenda di Masjid KH Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat, dan diberitakan secara luas oleh media nasional . Dinamika Islah: Dari Penolakan Keputusan hingga Pertemuan di Lirboyo Meski Rais ‘Aam menegaskan telah berupaya menjaga komunikasi, Gus Yahya secara terbuka menolak keputusan Rapat Harian Syuriyah dan seluruh turunannya. Dalam konferensi pers di Kantor PBNU Jakarta pada 24 Desember 2025, ia menilai keputusan Syuriyah tidak memiliki dasar dan bertentangan dengan AD/ART NU, sehingga dianggap batal demi hukum. Namun, dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya tetap mengajak semua pihak menempuh jalan islah dan mengedepankan penyelesaian damai di lingkungan jam’iyah . Upaya meredakan ketegangan terlihat ketika Rais ‘Aam dan Gus Yahya akhirnya duduk bersama dalam pertemuan para kiai sepuh dan Mustasyar NU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 25 Desember 2025. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian musyawarah kiai yang sebelumnya digelar di Ploso, Tebuireng, hingga Musyawarah Kubro di Lirboyo. Dalam forum itu, Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh menyebut Rais ‘Aam telah memaafkan kekeliruan Gus Yahya terkait undangan terhadap akademisi Amerika, Peter Berkowitz, dalam kegiatan AKN NU . Isyarat pemaafan ini menandai adanya ruang kompromi meskipun perbedaan tafsir atas mekanisme organisasi masih mengemuka. Dukungan Struktural: 36 PWNU dan Posisi Rais ‘Aam Secara struktural, Rais ‘Aam mengklaim bahwa keputusan pemberhentian Gus Yahya mendapat dukungan luas dari pengurus wilayah. Dalam pertemuan di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, pada akhir November 2025, KH Miftachul Akhyar menyatakan bahwa 36 Pengurus Wilayah NU (PWNU) yang hadir telah memberikan dukungan penuh terhadap keputusan Syuriyah PBNU untuk memberhentikan Gus Yahya dan memusatkan kepemimpinan pada Rais ‘Aam sementara waktu . Dalam pernyataan terpisah, Rais ‘Aam juga menegaskan bahwa sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB, Gus Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum PBNU dan tidak berhak menggunakan atribut maupun kewenangan sebagai ketua umum. Pernyataan ini mempertegas bahwa, di mata Syuriyah PBNU, seluruh kewenangan pimpinan tertinggi organisasi berada di tangan Rais ‘Aam sampai adanya keputusan organisatoris baru atau Muktamar . Di sisi lain, kubu Gus Yahya tetap berpegang pada tafsir AD/ART yang menilai keputusan Syuriyah tidak sah secara prosedural. Taruhannya: Marwah Organisasi dan Kepercayaan Jamaah Kisruh di level elite PBNU ini terjadi ketika NU tengah mengonsolidasikan peran keummatan dan kebangsaannya pasca satu abad berdiri. Sejak Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021, PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya mendorong program internasionalisasi NU dan penguatan peran di level global. Di sisi lain, Syuriyah sebagai lembaga tertinggi penjaga khittah dan marwah keulamaan merasa perlu menarik rem darurat ketika ada langkah yang dinilai dapat mengganggu posisi politik luar negeri PBNU, khususnya terkait isu Palestina dan jaringan Zionisme internasional. Dari perspektif jamaah, konflik berkepanjangan di tingkat pusat berpotensi mengganggu soliditas di akar rumput. Dengan basis massa yang sangat besar—diperkirakan mencakup sekitar 49,5 persen dari total populasi Muslim Indonesia menurut sejumlah kajian demografis ormas Islam , stabilitas internal NU menjadi faktor penting bagi stabilitas sosial-politik nasional. Karena itu, seruan islah dan penyelesaian melalui mekanisme organisasi yang sah menjadi kata kunci di hampir semua pernyataan resmi kedua belah pihak. Penutup: Pesan di Balik "Jangan Tersinggung" Pengungkapan isi percakapan antara Rais ‘Aam PBNU dan Gus Yahya membuka sedikit tirai dinamika di balik layar kisruh kepemimpinan NU. Ucapan "sampean jangan tersinggung" mencerminkan upaya menjaga hubungan personal di tengah pertarungan tafsir atas kewenangan struktural dan prosedur organisasi. Sementara keputusan-keputusan formal Syuriyah dan sikap penolakan dari pihak Gus Yahya masih menunggu babak lanjutan, baik melalui pleno berikutnya maupun Muktamar 2026, pertemuan di Lirboyo dan isyarat pemaafan Rais ‘Aam memberi harapan akan adanya titik temu. Bagi warga NU dan publik luas, bagaimana para elit jam’iyah mengelola perbedaan—tanpa mengorbankan marwah organisasi dan keutuhan jamaah—akan menjadi ujian penting bagi kapasitas NU sebagai kekuatan moral dan kebangsaan di Indonesia.
Frasa•Dec 26, 2025