Imbal Hasil Obligasi Global Sentuh Puncak 16 Tahun, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Memudar

AI-assistedNewsFrasa

7 Min to read

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global melonjak ke level tertinggi sejak 2009 menjelang pertemuan penting Federal Reserve AS pada pertengahan Desember 2025. Lonjakan ini mencerminkan perubahan tajam ekspektasi pasar: siklus pemangkasan suku bunga yang semula diperkirakan panjang kini dipandang akan berakhir lebih cepat, bahkan berbalik menjadi kenaikan di sejumlah negara maju. Lompatan yield tersebut tercermin pada indeks obligasi pemerintah berjatuh tempo panjang yang disusun Bloomberg, yang kembali ke level tertinggi dalam 16 tahun terakhir, menandai pergeseran besar di pasar pendapatan tetap global. Bagi pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga, imbasnya adalah biaya pinjaman yang lebih mahal di tengah stok utang yang sudah membengkak sejak krisis keuangan global dan pandemi.

The word bond spelled with scrabble blocks on a table

Image Illustration. Photo by Markus Winkler on Unsplash

Lonjakan Yield dan Menguapnya Harapan Pemangkasan Suku Bunga

Kenaikan imbal hasil terbaru ini terjadi ketika pelaku pasar mulai meragukan kelanjutan siklus pelonggaran moneter di berbagai yurisdiksi. Menurut laporan Bloomberg, imbal hasil pada indeks obligasi pemerintah berjatuh tempo panjang mencapai kembali level yang terakhir terlihat pada 2009, tepat ketika bank sentral global sedang berjuang keluar dari krisis keuangan global.

Pasar uang kini hampir tidak lagi memproyeksikan pemangkasan suku bunga tambahan oleh Bank Sentral Eropa (ECB), sementara di Jepang pelaku pasar justru bertaruh pada kenaikan suku bunga yang hampir pasti bulan ini. Di Australia, kontrak derivatif suku bunga mengantisipasi dua kenaikan masing-masing 25 basis poin pada 2026, mengindikasikan keyakinan bahwa suku bunga acuan belum berada di puncaknya.

Di Amerika Serikat, bahkan ketika The Fed melakukan pemangkasan suku bunga seperempat poin pada 10 Desember 2025, proyeksi terbaru menunjukkan hanya satu kali pemangkasan lagi pada 2026, dengan inflasi baru kembali mendekati target 2% dalam dua tahun ke depan. Hal ini membuat investor menyimpulkan bahwa era uang murah benar-benar berakhir, dan suku bunga riil akan bertahan lebih tinggi untuk jangka panjang.

Faktor Pendorong: Dari Inflasi Melekat hingga Utang Menggunung

Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan mengapa yield terdorong naik meski sejumlah bank sentral baru saja atau sedang memulai siklus pemangkasan suku bunga.

1. Inflasi yang Belum Sepenuhnya Jinak. Meskipun inflasi turun tajam dari puncak 2022, di banyak negara laju kenaikan harga masih berada di atas target bank sentral, atau bergerak mendekati 3% dan cenderung “lengket”. Hal ini memaksa bank sentral berhati-hati dan menahan diri dari pelonggaran agresif yang sebelumnya diharapkan pasar.

2. Stok Utang Publik dan Korporasi yang Rekor. Data OECD menunjukkan total utang obligasi pemerintah dan korporasi dunia mendekati 100 triliun dolar AS pada akhir 2023, kira-kira setara dengan PDB global. Utang pemerintah di negara-negara OECD saja diproyeksikan naik menjadi sekitar 59 triliun dolar AS pada 2025, sementara utang obligasi korporasi global mencapai sekitar 35 triliun dolar AS pada akhir 2024. Pasar menuntut kompensasi yield yang lebih tinggi untuk menahan risiko fiskal dan kredit yang meningkat.

3. Lonjakan Kebutuhan Pembiayaan Ulang. Sekitar 42% dari total utang pemerintah dan 38% dari seluruh utang obligasi korporasi global diperkirakan jatuh tempo dalam tiga tahun ke depan, sehingga harus diterbitkan ulang pada tingkat bunga yang jauh lebih tinggi dibanding periode 2010–2021 yang ultra-longgar. Tekanan pasokan obligasi baru dalam skala besar menambah dorongan kenaikan yield di pasar sekunder.

4. Perubahan Pembeli Besar Obligasi. Seiring berakhirnya program pembelian aset (quantitative easing), kepemilikan obligasi pemerintah oleh bank sentral di negara OECD turun dari sekitar 29% pada 2021 menjadi 19% pada 2024, sementara porsi rumah tangga domestik dan investor asing meningkat. Investor baru ini cenderung lebih sensitif terhadap harga dan yield, sehingga menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk menambah eksposur terhadap utang pemerintah.

Potret Negara: AS, Eropa, Jepang, dan Australia

Dinamika yield tidak seragam antarwilayah, tetapi benang merahnya sama: pasar meragukan bahwa suku bunga akan kembali ke era mendekati nol seperti sebelum pandemi.

Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury tenor panjang, termasuk 30 tahun, kembali naik ke level tertinggi beberapa bulan, mencerminkan kekhawatiran pasar atas kombinasi prospek inflasi, kebijakan fiskal yang ekspansif, dan kebutuhan penerbitan obligasi yang besar. Investor pendapatan tetap AS kini lebih memilih durasi menengah (sekitar lima tahun) ketimbang ujung panjang kurva, mencerminkan keyakinan bahwa penurunan suku bunga ke depan akan terbatas dan suku bunga netral mungkin bertahan dekat 3% secara riil atau nominal.

Zona Euro. Di Eropa, pasar kini hampir tidak lagi mengantisipasi pemangkasan tambahan oleh ECB dalam waktu dekat, setelah serangkaian pelonggaran bertahap sebelumnya. Sementara inflasi bergerak turun, tekanan fiskal di beberapa negara—seperti kebutuhan konsolidasi anggaran dan pembiayaan transisi energi—membuat investor meminta premi risiko yang lebih tinggi atas obligasi jangka panjang.

Jepang. Setelah bertahun-tahun mempertahankan suku bunga negatif dan kontrol kurva yield, Bank of Japan secara bertahap menormalisasi kebijakan, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade, mendekati 2%. Pasar kini memposisikan diri untuk kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan, sebuah skenario yang nyaris tak terpikirkan hanya beberapa tahun lalu.

Australia. Di Australia, pelaku pasar memperkirakan dua kenaikan suku bunga acuan pada 2026, di tengah ekonomi yang relatif tangguh dan harga komoditas yang menopang pendapatan nasional. Ekspektasi ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Australia dan menambah tekanan pada biaya pinjaman korporasi domestik.

Risiko bagi Pemerintah, Korporasi, dan Investor Ritel

Dengan yield yang menanjak di atas level rata-rata dekade sebelumnya, konsekuensi jangka menengah terhadap stabilitas fiskal dan keuangan mulai terasa.

Dari sisi pemerintah, OECD memperkirakan pembayaran bunga pemerintah di negara-negara anggotanya naik menjadi sekitar 3,3% dari PDB pada 2024, naik 0,3 poin persentase dibanding 2023 dan kini melampaui belanja pertahanan secara agregat. Hampir separuh utang pemerintah OECD diperkirakan jatuh tempo sebelum 2028, sehingga harus digulirkan pada tingkat bunga yang jauh lebih mahal daripada ketika utang itu diterbitkan satu dekade terakhir. Ini menyempitkan ruang fiskal untuk belanja sosial, infrastruktur, dan transisi iklim.

Bagi korporasi, stok utang obligasi global sekitar 35 triliun dolar AS menandakan ketergantungan tinggi dunia usaha pada pembiayaan pasar modal. Sekitar 38% utang tersebut akan jatuh tempo dalam tiga tahun, sehingga perusahaan harus menghadapi biaya refinancing yang lebih tinggi dan potensi pengetatan standar kredit dari investor yang semakin berhati-hati. Sektor dengan leverage tinggi dan arus kas rapuh akan menjadi yang paling rentan.

Sementara bagi investor ritel, kenaikan yield berarti potensi kerugian harga pada portofolio obligasi yang sudah dimiliki, namun juga membuka peluang untuk mengunci imbal hasil kupon yang lebih menarik untuk jangka panjang. Peralihan dari deposito ke obligasi berisiko meningkat, terutama ketika bank sentral mulai memotong suku bunga kebijakan sementara yield obligasi jangka panjang masih tinggi karena premi risiko fiskal dan inflasi.

Apa Artinya bagi Prospek Ekonomi Global?

Kenaikan imbal hasil obligasi global ke level tertinggi dalam 16 tahun membawa pesan ganda bagi ekonomi dunia. Di satu sisi, yield yang lebih tinggi mencerminkan ekspektasi bahwa inflasi tidak akan kembali mudah ke rezim ultra-rendah pra-pandemi, dan bahwa suku bunga “netral” jangka panjang mungkin lebih tinggi daripada estimasi sebelumnya. Di sisi lain, biaya utang yang meningkat pada stok utang yang sudah besar berpotensi menekan kemampuan pemerintah dan sektor swasta untuk berinvestasi di bidang-bidang prioritas seperti produktivitas, infrastruktur hijau, dan pertahanan.

Laporan terbaru OECD memperingatkan bahwa kombinasi utang yang lebih tinggi dan lebih mahal dapat membatasi kapasitas pembiayaan kebutuhan investasi masa depan—mulai dari penuaan penduduk hingga pembiayaan transisi iklim—kecuali ada upaya yang jelas untuk meningkatkan efisiensi belanja publik dan mengarahkan utang ke proyek-proyek yang mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Bagi pembuat kebijakan, tantangan ke depan adalah menavigasi lanskap baru ini: memastikan inflasi benar-benar terkendali tanpa mengguncang pasar obligasi, menjaga disiplin fiskal tanpa mengorbankan investasi produktif, dan merancang kerangka regulasi yang mampu mengantisipasi risiko dari utang yang kian kompleks. Bagi investor, era yield nol tampaknya resmi berakhir. Pertanyaan berikutnya bukan lagi kapan suku bunga kembali ke titik terendah historis, melainkan bagaimana berinvestasi secara selektif di dunia di mana uang kembali memiliki harga yang nyata.

You've reached the juicy part of the story.

Sign in with Google to unlock the rest — it takes 2 seconds, and we promise no spoilers in your inbox.

Free forever. No credit card. Just great reading.