Kontroversi Trump-Kennedy Center: Konser Jazz Malam Natal Dibatalkan, Tradisi 20 Tahun Terhenti

AI-assistedNewsFrasa

6 Min to read

Tradisi konser jazz Malam Natal di Kennedy Center di Washington, D.C., yang telah berlangsung lebih dari dua dekade, mendadak terhenti pada 24 Desember 2025. Musisi dan pembawa acara lama, Chuck Redd, membatalkan acara tersebut setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa nama Donald J. Trump resmi ditambahkan ke fasad gedung yang selama ini menjadi memorial bagi Presiden John F. Kennedy. Keputusan politik yang sarat simbol ini memicu gelombang protes di kalangan seniman, keluarga Kennedy, hingga pakar hukum tata negara, serta menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan lembaga seni paling bergengsi di ibu kota Amerika Serikat.

Pembatalan Mendadak di Tengah Tradisi Panjang

Konser jazz Malam Natal di Kennedy Center bukan sekadar pertunjukan musiman; ia telah menjadi bagian dari kalender budaya Washington selama lebih dari 20 tahun, dengan format jam session yang terbuka dan akrab. Chuck Redd, drummer dan pemain vibrafon yang dikenal luas di dunia jazz, telah memandu acara “Jazz Jams” Malam Natal di pusat seni tersebut sejak 2006, menggantikan bassist William “Keter” Betts. Dalam email kepada Associated Press, Redd menjelaskan bahwa ia memutuskan membatalkan konser segera setelah melihat perubahan nama di situs resmi dan di fasad gedung, yang kini bertuliskan “The Donald J. Trump and The John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts”.

Menurut daftar acara resmi Kennedy Center, status konser tersebut diubah menjadi “Canceled” hanya beberapa hari sebelum jadwal pentas, menyudahi sebuah tradisi yang menarik ratusan penonton setiap Malam Natal dan menjadi salah satu program jazz paling konsisten di ibu kota Amerika.

Dari Kennedy Center Menjadi Trump-Kennedy Center

Akar persoalan terletak pada perubahan identitas institusi. Pada 18 Desember 2025, dewan pengawas Kennedy Center yang didominasi sekutu Donald Trump menggelar pemungutan suara dan menyetujui penambahan nama mantan presiden tersebut ke lembaga yang selama ini dikenal sebagai John F. Kennedy Center for the Performing Arts. Hanya sehari setelah keputusan itu, pekerja mulai memasang nama “Donald J. Trump” di atas signage utama, dan dalam hitungan jam, laman resmi pusat seni itu diperbarui menjadi “Trump-Kennedy Center” atau dalam bentuk lengkap “The Donald J. Trump and The John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts”.

Secara historis, Kennedy Center berdiri sebagai memorial resmi untuk Presiden John F. Kennedy. Gedung ini diresmikan pada 1971, menyusul undang-undang Kongres tahun 1964 yang secara eksplisit menetapkannya sebagai “living memorial” kepada Kennedy, presiden ke-35 AS yang tewas terbunuh pada 1963.

Pertanyaan Hukum dan Gugatan ke Pengadilan

Langkah menambahkan nama Trump segera memantik debat hukum. Undang-undang federal yang menjadi dasar pendirian Kennedy Center menyatakan bahwa lembaga ini adalah memorial bagi satu tokoh, John F. Kennedy, dan melarang dewan pengawas menjadikannya memorial bagi orang lain atau menambahkan nama lain ke eksterior gedung. Sejumlah pakar hukum berpendapat bahwa perubahan nama hanya bisa dilakukan dengan undang-undang baru yang disahkan Kongres, bukan lewat keputusan internal dewan pengawas yang loyal kepada presiden. Kritik serupa dikemukakan oleh mantan sejarawan DPR AS dan para akademisi yang melihat langkah ini sebagai pelanggaran terhadap mandat Kongres tahun 1964.

Pada awal pekan yang sama dengan pembatalan konser, anggota DPR dari Partai Demokrat, Joyce Beatty, mengajukan gugatan hukum yang menuduh perubahan nama itu sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap rule of law” karena bertentangan dengan undang-undang yang hanya mengakui Kennedy sebagai figur memorial tunggal di pusat seni tersebut.

Gelombang Boikot Seniman dan Tekanan Simbolis

Pembatalan konser Malam Natal hanya salah satu bagian dari rangkaian boikot yang lebih luas. Sejak Trump kembali berkuasa dan mengangkat dirinya sebagai ketua dewan Kennedy Center, setidaknya 15 acara dilaporkan dibatalkan oleh para penampilnya sendiri, termasuk program yang melibatkan aktris Issa Rae dan komposer pemenang penghargaan Tony, Lin-Manuel Miranda.

Bagi dunia jazz Washington, hilangnya konser Malam Natal dan pembatalan program lain di Kennedy Center merepresentasikan pukulan ganda: secara simbolis, karena pusat seni yang seharusnya netral berubah menjadi ajang pertarungan politik; dan secara ekonomi, karena penundaan dan pembatalan program berpotensi menggerus pendapatan seniman dan pekerja panggung yang selama ini mengandalkan rangkaian acara tahunan di sana.

Reaksi Keluarga Kennedy dan Publik

Keluarga Kennedy, yang selama ini menjaga warisan politik dan kultural John F. Kennedy, bereaksi keras terhadap penambahan nama Trump. Beberapa anggota keluarga menyebut keputusan dewan “tidak dapat dipahami” dan “merusak integritas memorial” yang telah berdiri selama lebih dari setengah abad sebagai lambang komitmen negara terhadap seni dan kebudayaan.

Salah satu keponakan Kennedy, Kerry Kennedy, bahkan berikrar untuk mengupayakan pencabutan nama Trump dari gedung tersebut setelah ia tidak lagi menjabat, mencerminkan betapa isu ini dipandang sebagai pertarungan jangka panjang atas makna sebuah memorial nasional.

Politik di Panggung Seni: Pola Intervensi Trump

Renaming Kennedy Center tidak berdiri sendiri. Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump secara agresif mereformasi tata kelola lembaga tersebut: menyingkirkan pimpinan era Biden, menunjuk loyalis seperti Richard Grenell sebagai presiden lembaga, dan merombak komposisi dewan sehingga mayoritas diisi sekutu politiknya. Berbeda dengan masa jabatan pertamanya ketika ia relatif menjaga jarak dari Kennedy Center Honors, kali ini Trump bahkan memosisikan diri sebagai tuan rumah langsung untuk acara penghargaan itu, memutus tradisi panjang presiden yang umumnya hadir hanya sebagai tamu kehormatan.

Bagi para pengkritik, manuver ini sejalan dengan agenda yang lebih luas untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai “budaya woke” di lembaga-lembaga kebudayaan federal: mulai dari museum, lembaga arsip, hingga pusat seni seperti Kennedy Center.

Dampak Lebih Luas bagi Ekosistem Seni Amerika

Meskipun kasus ini berpusat di satu gedung di Washington, implikasinya meluas ke ekosistem seni nasional. Kennedy Center menerima kombinasi dana federal, pendapatan tiket, dan donasi swasta; pada tahun fiskal sebelum pandemi, anggaran operasionalnya dilaporkan berada di kisaran ratusan juta dolar AS per tahun, menjadikannya salah satu institusi seni terbesar di negara itu.

Dengan reputasi sebagai panggung nasional—dari simfoni dan opera hingga jazz dan teater eksperimental—setiap ketegangan politik di Kennedy Center berpotensi memengaruhi persepsi publik maupun sponsor korporat terhadap seni sebagai ruang yang seharusnya relatif otonom dari tarik-menarik kekuasaan partisan. Jika semakin banyak seniman yang menarik diri, jadwal produksi bisa menyusut, penjualan tiket menurun, dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan program-program pendidikan seni yang digelar pusat ini untuk puluhan ribu pelajar setiap tahun.

Penutup: Seni, Memori, dan Politik Nama

Pembatalan konser jazz Malam Natal di Kennedy Center menandai babak baru dalam persinggungan antara seni dan politik di Amerika Serikat. Apa yang pada permukaan tampak sebagai perubahan nama gedung, dalam praktiknya menyentuh pertanyaan lebih mendasar: siapa yang berhak menafsirkan ulang memorial nasional, dan sejauh mana kekuasaan eksekutif boleh masuk ke ruang-ruang budaya yang selama ini diposisikan sebagai milik publik luas, bukan milik satu figur politik tertentu.

Jawaban atas pertanyaan itu kini sebagian berada di tangan pengadilan dan, pada akhirnya, Kongres. Namun di panggung Kennedy Center, konsekuensinya sudah terasa nyata: lampu panggung yang biasanya menyala setiap Malam Natal tahun ini padam lebih awal, meninggalkan jeda senyap di mana musik jazz seharusnya mengalun.

You've reached the juicy part of the story.

Sign in with Google to unlock the rest — it takes 2 seconds, and we promise no spoilers in your inbox.

Free forever. No credit card. Just great reading.