Kericuhan di Kalibata Pecah Lagi Tengah Malam, Mobil dan Kios Dibakar

AI-assistedNewsFrasa

6 Min to read

Jakarta – Suasana di kawasan Jalan Raya Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, kembali mencekam pada Kamis malam, 11 Desember 2025, hingga menjelang Jumat dini hari. Kericuhan yang berawal dari pengeroyokan terhadap dua penagih utang atau mata elang (matel) kembali berujung pada aksi pembakaran mobil dan deretan kios di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, memaksa aparat kepolisian menutup akses jalan dan mengerahkan ratusan personel untuk mengendalikan situasi.

Kronologi Singkat Kericuhan: Dari Pengeroyokan hingga Pembakaran

Kericuhan di Kalibata berawal pada Kamis sore sekitar pukul 15.30 WIB ketika dua penagih utang motor dikeroyok sekelompok orang di depan TMP Kalibata. Mereka disebut tengah mencoba menarik sepeda motor yang menunggak cicilan, namun pemilik kendaraan menolak dan memanggil sejumlah rekannya. Massa yang datang kemudian mengeroyok kedua matel tersebut hingga satu orang tewas di lokasi dan satu lainnya mengalami luka berat. Kronologi ini dipaparkan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly kepada media, yang menjelaskan bahwa pengeroyokan terjadi setelah upaya penarikan kendaraan kredit macet.

Menjelang malam, situasi memanas. Sekelompok massa yang diduga rekan korban datang ke lokasi usai waktu Magrib dan mulai melakukan perusakan terhadap warung dan sepeda motor di sekitar tempat kejadian. Aparat kepolisian yang sudah bersiaga sempat mencoba menghalau, namun jumlah massa yang diperkirakan mencapai sekitar 100 orang membuat kerusuhan sulit diredam dalam waktu singkat.

Mobil Listrik dan Deretan Kios Hangus Terbakar

Puncak ketegangan terjadi sekitar pukul 23.00 hingga menjelang tengah malam. Di depan TMP Kalibata, sebuah mobil listrik—diduga milik layanan transportasi online—terlihat terbakar hebat. Beberapa sepeda motor di sekitarnya juga hangus, menyisakan rangka. Api kemudian merembet ke lapak-lapak pedagang dan sejumlah kios yang berdiri di sepanjang jalan. Laporan lapangan menyebutkan sedikitnya satu mobil listrik, beberapa sepeda motor, dan sejumlah kios/warung hangus dilalap api akibat aksi massa yang melakukan pembakaran di lokasi tersebut.

Petugas pemadam kebakaran (Damkar) dikerahkan sedikitnya tiga unit mobil pemadam untuk menjinakkan api yang mulai meluas ke lapak-lapak di sekitar mobil terbakar. Dokumentasi foto dari lokasi memperlihatkan petugas Damkar berjibaku memadamkan api yang membakar barisan kios serta mobil tersebut, sementara kepulan asap pekat membubung di atas jalan raya yang biasanya padat lalu lintas.

Kalibata Kembali Memanas Tengah Malam, Jalan Ditutup Total

Meski api sempat dilokalisasi, situasi belum sepenuhnya kondusif. Menjelang tengah malam hingga Jumat dini hari, 12 Desember 2025, gerombolan massa kembali mendatangi kawasan TMP Kalibata. Mereka dilaporkan kembali melakukan aksi pembakaran terhadap sisa-sisa warung dan kendaraan yang belum rata dengan tanah, memaksa polisi menutup Jalan TMP Kalibata dari dua arah untuk mencegah pengendara terjebak dalam kericuhan. Pantauan media di lokasi memperlihatkan ratusan aparat kepolisian, termasuk personel Brimob dan Samapta, berjaga di sepanjang ruas jalan dan gang-gang sekitar untuk mengamankan rumah warga dari kemungkinan sasaran amuk massa.

Dampak Sosial-Ekonomi Bagi Pedagang Kecil

Bagi pedagang kecil di sekitar TMP Kalibata, kericuhan ini bukan sekadar peristiwa keamanan, tetapi juga pukulan ekonomi yang signifikan. Warung makan, kios kelontong, dan lapak-lapak kecil yang menjadi tulang punggung penghidupan keluarga terbakar dalam hitungan menit. Sebagian pedagang mengaku tidak sempat menyelamatkan barang dagangan karena kerusuhan berlangsung cepat dan situasi sangat mencekam.

Jakarta memang kerap mengalami insiden kebakaran yang menimpa permukiman padat dan area usaha kecil. Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menunjukkan bahwa sepanjang 2023 tercatat lebih dari seribu kasus kebakaran di ibu kota, dengan kerugian material mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahunnya. Kericuhan di Kalibata menambah daftar panjang peristiwa kebakaran yang bukan hanya disebabkan korsleting listrik atau kelalaian, tetapi juga aksi kekerasan massa.

Fenomena Mata Elang dan Potensi Konflik di Lapangan

Insiden di Kalibata kembali menyorot praktik penagihan utang di lapangan yang melibatkan debt collector atau yang populer disebut mata elang. Sejumlah kasus bentrokan antara penagih utang dengan warga bukan hal baru, terutama ketika proses penarikan kendaraan kredit macet berlangsung secara konfrontatif di ruang publik.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah mengeluarkan aturan yang menegaskan bahwa perusahaan pembiayaan wajib memastikan penagihan dilakukan secara beretika, menghindari kekerasan, dan melibatkan juru tagih bersertifikat, termasuk dalam urusan penarikan kendaraan bermotor. Namun di lapangan, fakta bahwa matel sering bekerja secara informal dan dalam tekanan target penagihan membuat potensi friksi dengan pemilik kendaraan tetap sangat tinggi.

Respons Kepolisian dan Upaya Meredam Eskalasi

Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan menegaskan telah menyiagakan personel sejak kericuhan pertama pecah pada Kamis petang. Kapolres Kombes Nicolas Ary Lilipaly menyebut pihaknya berupaya mengantisipasi kerusuhan susulan setelah informasi kematian seorang matel menyebar di kalangan rekan-rekannya. Penutupan Jalan TMP Kalibata dari dua arah serta pengerahan ratusan personel Brimob dan Samapta menjadi langkah darurat untuk mencegah massa merangsek ke permukiman warga.

Hingga Jumat dini hari, laporan dari berbagai media menyebut api telah berhasil dipadamkan sekitar pukul 00.15 WIB, dengan aparat masih bersiaga di lokasi untuk mencegah bentrokan lanjutan dan memastikan jalur evakuasi aman. Polisi juga disebut tengah melakukan penyelidikan terhadap pelaku pengeroyokan maupun pembakaran, termasuk mengumpulkan rekaman CCTV dan keterangan saksi untuk mengidentifikasi dalang serta koordinator massa.

Risiko Kerusuhan Perkotaan dan Pentingnya Manajemen Konflik

Kericuhan di Kalibata menegaskan kembali rapuhnya stabilitas keamanan mikro di kawasan perkotaan padat penduduk, terutama ketika konflik ekonomi—seperti penagihan utang dan kepemilikan kendaraan—bertemu dengan dinamika sosial di tingkat akar rumput. Dalam konteks kota besar seperti Jakarta, bentrokan berskala lokal dapat dengan cepat berdampak lebih luas karena kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas di ruang publik.

Sejumlah studi tentang konflik perkotaan di Indonesia menyoroti bahwa faktor pemicu seperti kesenjangan ekonomi, lemahnya mediasi sengketa, serta kehadiran aktor-aktor informal bersenjata atau berjejaring kuat di komunitas dapat mempercepat eskalasi kekerasan ketika terjadi insiden pemicu. Lembaga-lembaga penelitian kebijakan publik dan keamanan, seperti LIPI yang kini menjadi bagian dari BRIN, berulang kali merekomendasikan penguatan mekanisme penyelesaian sengketa di tingkat lokal dan peningkatan kapasitas aparat dalam manajemen kerusuhan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerugian material lebih besar.

Penutup: Peringatan Keras di Tengah Kota yang Terus Tumbuh

Kericuhan yang kembali pecah tengah malam di Kalibata, dengan mobil dan kios dibakar massa, menjadi peringatan keras bahwa keamanan di ruang publik tidak hanya soal kehadiran aparat, tetapi juga tata kelola konflik ekonomi dan sosial yang lebih manusiawi. Praktik penagihan utang yang berpotensi memicu kekerasan, ketidakpastian hukum di lapangan, serta kerapuhan ekonomi pedagang kecil adalah kombinasi berbahaya di tengah kota yang terus tumbuh dan menampung jutaan penduduk.

Bagi warga Kalibata, yang tersisa selepas malam mencekam itu adalah puing-puing warung, rangka kendaraan, dan trauma kolektif. Bagi pembuat kebijakan dan penegak hukum, peristiwa ini seharusnya menjadi momentum untuk menata kembali regulasi penagihan utang, memperkuat perlindungan bagi warga dan pelaku usaha kecil, serta memastikan bahwa perselisihan di jalanan tidak lagi dibayar dengan nyawa dan hancurnya mata pencaharian.

You've reached the juicy part of the story.

Sign in with Google to unlock the rest — it takes 2 seconds, and we promise no spoilers in your inbox.

Free forever. No credit card. Just great reading.