Momen Warga Lebanon Rayakan Natal di Tengah Ketegangan dengan Israel
Di Beirut, denting lonceng gereja dan lagu "Silent Night" masih terdengar, meski suara itu sesekali bersaing dengan dengung drone di langit selatan Lebanon. Perayaan Natal tahun ini berlangsung ketika ketegangan dengan Israel kembali meningkat di sepanjang perbatasan, menyusul konflik berkepanjangan dan proses pelucutan senjata Hizbullah di wilayah selatan Sungai Litani.
Bagi banyak keluarga Kristen dan juga Muslim di Lebanon, Natal bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga momen langka untuk merayakan kebersamaan, menegaskan identitas, dan mempertahankan harapan di tengah krisis ekonomi yang menghimpit dan ancaman eskalasi militer yang terus membayangi.
Lebanon: Negeri Kecil dengan Komunitas Kristen Terbesar di Timur Tengah
Lebanon kerap disebut sebagai negara dengan proporsi umat Kristen terbesar di Timur Tengah. Berbagai studi demografis memperkirakan komunitas Kristen masih mencakup sekitar sepertiga penduduk, meski angkanya bervariasi karena sensus terakhir dilakukan pada 1932. Salah satu estimasi yang kerap dikutip menyebut umat Kristen mencapai sekitar 33–40 persen populasi, dengan Maronit sebagai denominasi terbesar.
Dalam lanskap sosial-politik Lebanon yang majemuk—dengan 18 kelompok agama resmi yang diakui negara—perayaan Natal memiliki dimensi simbolik yang melampaui batas komunitas Kristen. Negara ini secara resmi menjadikan 25 Desember sebagai hari libur nasional, dan di banyak kota, terutama Beirut, Tripoli dan Zahle, dekorasi Natal menyebar ke ruang publik: mal, kafe, hingga jalan-jalan utama.
Karangan Bunga di Balkon, Ledakan di Perbatasan
Kontras paling tajam terlihat di selatan Lebanon, dari wilayah Nabatieh hingga sepanjang garis Biru (Blue Line) yang memisahkan wilayah Lebanon dan Israel. Di sana, keluarga-keluarga yang biasanya menyalakan lampu warna-warni di balkon kini melakukannya dengan waswas, menyusul meningkatnya serangan udara dan artileri dalam beberapa bulan terakhir. Laporan media internasional menunjukkan Israel meningkatkan serangan ke sasaran yang diklaim sebagai infrastruktur Hizbullah di selatan Lebanon menjelang tenggat pelucutan senjata penuh di area selatan Sungai Litani. Serangan tersebut dilaporkan menghantam wilayah Nabatieh dan desa-desa di sekitarnya, memicu kekhawatiran akan siklus kekerasan baru.
Pemerintah Lebanon sendiri mengklaim telah "hampir menyelesaikan" upaya melucuti senjata Hizbullah di wilayah selatan Litani, sesuai perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada November 2024. Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan bahwa tentara Lebanon ditugaskan mengambil alih kontrol keamanan dan senjata di seluruh wilayah selatan, dengan rencana memperluas operasi ke wilayah utara sungai dalam fase berikutnya. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks meningkatnya tekanan dan tuduhan pelanggaran gencatan senjata dari Israel.
Ibadah Natal di Bawah Bayang-Bayang Konflik
Dalam situasi rapuh itu, gereja-gereja di Beirut dan kota-kota Kristen seperti Jounieh, Byblos, dan Zahle tetap menggelar misa malam Natal dengan pengamanan ekstra. Umat memadati basilika tua hingga gereja-gereja lingkungan, sebagian di antaranya menyalakan lilin untuk mendoakan perdamaian di Gaza, perbatasan selatan, dan di seluruh kawasan.
Di beberapa paroki, imam mengimbau jemaat mengurangi pesta meriah dan mengalihkan sebagian anggaran dekorasi menjadi paket bantuan bagi keluarga miskin dan pengungsi internal. Tradisi ini bukan hal baru di Lebanon, tetapi krisis ekonomi dan lonjakan kemiskinan membuat solidaritas Natal tahun ini terasa lebih mendesak.
Krisis Ekonomi Menggerus Sukacita Natal
Di luar ancaman konflik, faktor lain yang membayangi Natal di Lebanon adalah krisis ekonomi berkepanjangan yang dimulai sejak 2019. Bank Dunia menyebut krisis keuangan Lebanon sebagai salah satu yang terburuk di dunia sejak abad ke-19, dengan kontraksi PDB beruntun selama beberapa tahun dan pelemahan tajam nilai tukar lira. Inflasi tahunan bahkan diperkirakan menembus lebih dari 230 persen pada 2023, dengan kenaikan harga pangan yang termasuk tertinggi di dunia.
Dampak krisis terhadap rumah tangga begitu telak. Laporan terbaru Bank Dunia menunjukkan tingkat kemiskinan di Lebanon melonjak dari 12 persen pada 2012 menjadi 44 persen pada 2022. Di beberapa wilayah seperti Akkar di utara, angka kemiskinan bahkan mencapai sekitar 70 persen, menjadikannya salah satu daerah termiskin di negara tersebut.
Perubahan drastis ini memukul keras kelas menengah Lebanon yang dulu dikenal relatif makmur dan konsumtif, termasuk komunitas Kristen di kota-kota pesisir. Jika dulu keluarga gemar berbelanja di pusat perbelanjaan dan menyajikan hidangan mewah pada malam Natal, kini banyak yang memilih makan malam sederhana di rumah, memangkas hadiah, dan mengandalkan dukungan diaspora—remitansi dari kerabat di Eropa, Teluk, atau Amerika Utara—untuk sekadar bertahan hidup selama musim liburan.
Remitansi dan Kreativitas: Natal Versi Krisis
Remitansi memainkan peran kunci dalam menjaga daya beli sebagian keluarga. Bank Dunia mencatat bahwa kiriman uang diaspora meningkat menjadi sekitar 30 persen dari PDB Lebanon pada 2022, melonjak dari rata-rata sekitar 13 persen sebelum krisis. Tanpa aliran dana tersebut, banyak keluarga mengaku tidak akan mampu membiayai kebutuhan dasar, apalagi merayakan Natal.
Dalam kondisi serba terbatas, kreativitas muncul di berbagai penjuru. Di beberapa gereja, pohon Natal dihiasi ornamen dari bahan daur ulang atau kerajinan tangan anak-anak. Komunitas-komunitas lokal menginisiasi "pohon keinginan" di mana amplop berisi kebutuhan nyata—mulai dari susu bayi hingga obat-obatan—digantung, dan jemaat yang mampu bisa mengambil satu amplop untuk dipenuhi. Festival musik Natal yang dulu digelar di hotel berbintang kini berpindah ke aula gereja atau balai komunitas dengan tiket donasi sukarela.
Natal Sebagai Ruang Dialog Antar-Iman
Lebanon juga menyuguhkan satu wajah unik: Natal sebagai perayaan lintas iman. Di banyak lingkungan, keluarga Muslim ikut memasang pohon Natal di rumah, mengirim ucapan selamat, atau menghadiri makan malam bersama tetangga Kristen mereka. Di distrik-distrik campuran sekitar Beirut dan Gunung Lebanon, pemandangan hijab dan salib dalam satu meja makan malam bukan hal luar biasa, melainkan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun.
Model koeksistensi semacam ini mendapat sorotan tersendiri dalam analisis mengenai kemajemukan agama di Lebanon, yang kerap digambarkan sebagai yang paling beragam di kawasan. Meski sistem politik sektarian sering dituding memperuncing perpecahan, pada tingkat akar rumput, banyak komunitas justru memanfaatkan momentum hari raya—baik Natal, Idulfitri maupun Asyura—sebagai ruang dialog dan rekonsiliasi sosial.
Bayang-Bayang Emigrasi dan Masa Depan Komunitas Kristen
Di balik keriuhan lampu dan lagu Natal, ada kecemasan mendalam soal masa depan komunitas Kristen Lebanon. Krisis ekonomi, instabilitas politik, dan ketegangan keamanan dengan Israel mendorong gelombang emigrasi baru, terutama di kalangan muda terdidik. Berbagai studi dan laporan pers menunjukkan bahwa proporsi umat Kristen cenderung menurun akibat tingkat emigrasi yang tinggi dibanding kelompok lain.
Bahkan sebelum krisis terbaru, estimasi berbasis data pemilih dan studi demografis sudah mengindikasikan penurunan porsi Kristen dari sekitar 50 persen pada awal abad ke-20 menjadi sekitar sekitar sepertiga atau kurang. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah politisi bahkan menyebut angka yang lebih rendah lagi, memicu perdebatan sengit di dalam negeri.
Harapan Tipis di Tengah Ketidakpastian
Meski dihimpit sederet krisis—dari ancaman militer di perbatasan, krisis ekonomi yang belum reda, hingga kecemasan demografis—banyak warga Lebanon memilih memaknai Natal sebagai momen menegaskan kembali keberlanjutan hidup bersama. Panggung-panggung kecil di lingkungan gereja menampilkan paduan suara anak-anak, sementara organisasi kemanusiaan lokal dan internasional memanfaatkan momentum ini untuk menggalang donasi bagi keluarga rentan lintas agama.
Di beberapa sudut Beirut, hiasan Natal yang bersahaja berdiri berdampingan dengan poster-poster politik, mural mengenang korban perang, dan antrean panjang di depan kantor lembaga bantuan. Di situlah mungkin esensi Natal di Lebanon hari ini: bukan perayaan yang bebas dari ketegangan, melainkan perlawanan sunyi terhadap keputusasaan—sekeping harapan yang tetap dinyalakan, bahkan ketika langit di selatan masih sesekali memerah oleh ledakan.
You've reached the juicy part of the story.
Sign in with Google to unlock the rest — it takes 2 seconds, and we promise no spoilers in your inbox.
Free forever. No credit card. Just great reading.